Tampilkan postingan dengan label takeda shingen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takeda shingen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

[Fanfic] SASUKE

SENGOKU BASARA Fanfiction

title : Sasuke

author :Meg-Kecil

cast : Sanada Yukimura as Yukimura, Kasuga as Kasuga, Sarutobi Sasuke as Sasuke, Takeda Shingen as Oyakatasama

genre : family, supernatural

disclaimer : I just write the story





Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya.
Sudah ku duga, pagi ini pun Oyakatasama duduk di depan altar itu, altar yang disusun sedemikian rupa dengan foto seorang anak remaja laki-laki yang nampak seumuran dengan ku, tetapi senyum nya membuatnya nampak lebih dewasa. Sasuke, meskipun kami kembar tapi tidak ada yang begitu persis di antara kami. Mungkin Sasuke nampak terlihat lebih dewasa dari ku, karena sakit nya, Sasuke tumbuh menjadi anak laki-laki yang lebih menghargai hidup nya.
“Oi, Yukimura” begitu fokus ia mendo’akan jiwa Sasuke dihadapan altarnya, Oyakatasama nampak baru menyadari keberadaan ku di depan pintu ruangan itu. “Selamat.. ulang tahun! ” kata Oyakatasama dari tempat duduknya. Wajah nya nampak mencoba untuk tegar, meski matanya menampakkan betapa ia berusaha untuk tidak menangis. Hari ini adalah ulang tahun ku, ulang tahun Sasuke juga dan tepat 10 hari setelah kepergiannya kembali ke Maha Pencipta.
“Terima kasih” jawab ku singkat. Oyakatasama beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan. Sekilas ia menepuk pundak ku. Aku hanya diam dan menatap lurus ke arah bingkai foto Sasuke dan sedikit membisikkan namanya.
Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya. Benar kata oyakatasama, aku adalah orang yang tidak pernah kesepian bahkan setelah kepergian Sasuke, karena Sasuke tidak benar-benar pergi.
“Ini sudah hari ke-10” gerutu ku. Seorang remaja laki-laki berambut gondrong sebahu berwarna kecoklatan duduk berjongkok di samping ku, kedua tangannya ia topang lurus di atas lututnya, pandangannya nampak menerawang ke arah pintu masuk area atap. “Apa kau tidak kasihan melihat Oyakatasama yang selalu mendo’akan ketenangan jiwa mu?” Sasuke hanya diam dan terlihat menghela nafas, sebenarnya aku tidak tahu, bagaimana bisa Sasuke yang sekarang hanya seonggok jiwa tanpa raga itu dapat menghela nafas, yang ku tau sekarang ia sudah lebih bebas dibandingkan semasa ia hidup dulu, yang bahkan terkadang untuk bernafas pun sulit karena penyakitnya. Aku menoleh ke belakang, ke arah di mana Sasuke begitu lekat menatap dari tadi, pintu masuk area atap, beberapa siswa lain mulai banyak berdatangan dengan membawa bekal makan siang mereka, ada pula yang tidak membawa apapun, hanya sekedar mencari angin atau berkumpul dengan teman-teman nya. Aku kembali menatap ke arah halaman sekolah yang dapat terlihat jelas dari sini dan mengurangi ‘obrolan’ ku bersama Sasuke, yang tidak pernah satu kali pun bicara semenjak ia telah menjadi jiwa tanpa raga itu, atau orang lain akan menganggap ku gila karena bicara sendirian. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku dapat melihat sosok Sasuke seperti ini. Terakhir kali ku ingat bahwa aku adalah orang biasa yang tidak pernah dapat melihat hantu atau makhluk sejenisnya, atau mungkin karena aku dan Sasuke kembar dan ikatan kami begitu erat sehingga ia dapat terlihat oleh ku saja yang bahkan Oyakatasama pun tidak dapat menyadari kehadiran nya? Entahlah.
Pantulan sinar matahari siang menjelang sore itu membuat air sungai di bawah jembatan jalan menuju rumah begitu berkilauan. Sekilas teringat masa kecil ku bersama Sasuke yang sering berburu ikan-ikan kecil di sana atau bahkan hanya sekedar tidur-tiduran sepulang sekolah, membaui wangi rumput hijau yang menjadi kesukaan kami berdua.
Langkahku terhenti ketika melihat sesosok gadis dengan rambut pendek kuning pucat tetapi panjang pada sedikit bagian sisi kanan-kiri nya, gadis yang selalu ku dengar nama nya setiap Sasuke bercerita tentang apa yang membuatnya bahagia hari-hari nya. “Kasuga?” sapa ku pada Gadis dengan wajah yang terkadang membuat orang salah paham mengiranya adalah gadis antagonis namun sebenarnya memiliki kepribadian yang unik itu.
Terdiam sejenak aku di depan pintu, sedikit berpikir bagaimana reaksi Oyakatasama melihat ku membawa seorang gadis ke rumah.
“Aku pulang” salam ku begitu memasuki rumah. Tak lama kemudian Oyakatasama muncul dari dalam rumah.
“O, kau sudah pulang, Yukimura?” tanya Oyakatasama. Sedikit terkejut ia menatap Kasuga yang kemudian menundukkan badannya.
 “Baik Yukimura maupun Sasuke tidak pernah membawa pulang teman-teman nya, ku kira mereka tidak punya teman, syukurlah kalau aku salah” Oyakatasama membuka pembicaraan makan malam hari itu. Oyakatasama ternyata mempersiapkan perayaan ulang tahun ku (dan Sasuke) dengan memasak beberapa masakan untuk makan malam. Sebenarnya Kasuga berkata ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, entah tentang apa, aku tidak pernah merasa aku atau Sasuke memiliki sesuatu yang membuat Kasuga harus meluangkan waktu nya untuk berkunjung ke kediaman kami. Tetapi Oyakatasama meminta untuk kami makan malam sebentar sebelum membicarakan hal yang nampaknya akan menjadi pembicaraan serius ini. Sesekali aku menatap Kasuga yang nampak tidak nyaman, seperti banyak sekali hal yang ia pikirkan. Dan ku rasa, baru kali ini aku melihat wajah Kasuga dari jarak sedekat ini, ia duduk di samping ku. Aku mengerti kenapa Sasuke jatuh cinta pada gadis ini, meski aku tidak pernah tau bagaimana sebenarnya hubungan keduanya.
“A! Kasuga-kun, tidak usah dibantu, kau kan tamu, biar Yukimura dan aku yang membereskan ini semua” larang Oyakatasama ketika melihat Kasuga mengangkat piring nya setelah makan dan membawa nya ke tempat cuci piring. Aku mencoba mengambil piring dari tangan Kasuga, tetapi Kasuga menolak dan bersikeras untuk  membantu mencuci piring, dan akhirnya Oyakatasama membiarkannya membantu.
Setelah semuanya beres, kami bertiga kembali berkumpul untuk mendengarkan apa yang membawa Kasuga ke kediaman kami, berkumpul di samping altar Sasuke, karena Kasuga bilang ia ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan saudara kembar ku itu. Aku melempar pandangan ku ke sekeliling ruangan, tapi aku tak menemui sosok Sasuke.
“Aku… sedang mengandung anak Sasuke”
Singkat, padat dan sangat jelas. Kata-kata itu membuat ku dan Oyakatasama tercengang. Jantung ku berdetak sangat cepat! Seolah mengetahui alasan kenapa Sasuke menjadi jiwa yang tidak tenang setelah ia mati! Aku menatap ke arah Oyakatasama yang nampak sangat terkejut dan memegangi kepalanya, pengakuan ini membuatnya banyak berpikir.
“Sasuke..!” Oyakatasama mendongakkan kepalanya, menelan ludahnya dan menekan pangkal hidungnya. Kebiasaan Oyakatasama sejak dulu untuk menahan agar air matanya tidak keluar saat ia sedih tapi tidak ingin kelihatan oleh ku dan Sasuke. Kemudian ia beranjak dari tempat duduk nya, perlahan meraih pundak Kasuga dan membawa nya dalam pelukan hangat Oyakatasama. Sesaat kemudian aku melihat linangan air mata di pipi Kasuga dalam pelukan Oyakatasama. Aku mengerti kesedihan itu, kesedihan Oyakatasama yang merasa bersalah kepada Kasuga karena salah satu anak nya telah meninggalkan kekasih nya yang tengah mengandung cucu nya kelak, juga kesedihan Kasuga. Aku tau Sasuke menyukai Kasuga, tetapi aku tak pernah melihat Kasuga membalas etikat baik saudara kembar ku itu hingga aku tidak pernah menyangka hubungan mereka ternyata sudah sejauh ini, tetapi air mata Kasuga cukup membuat dada ku sesak dan yakin bahwa perasaannya yang begitu mencintai Sasuke hanya dia yang tahu dan orang lain tidak, bahkan saudara kembar Sasuke sendiri, aku, tidak tau.
Stasiun. Oyakatasama memintaku untuk mengantar Kasuga pulang. Sepanjang jalan begitu sepi, tidak ada pembicaraan baik dari ku, maupun Kasuga. Meskipun satu sekolah, kami beda kelas dan aku tidak begitu kenal dengan gadis yang sering jadi perhatian siswa laki-laki ini. Beruntung Sasuke mendapatkan nya.
“Apa kau akan datang ke sekolah besok?” tanya ku saat Kasuga telah melewati pintu tiket stasiun, aku dan Kasuga terpisah oleh mesin tiket masuk.
“Ku rasa aku tidak akan datang ke sekolah lagi” kata Kasuga. Ia kemudian meletakkan tangan di atas perutnya, sedikit mengelus dan tersenyum. Tapi aku tidak tau apa arti senyuman itu, entah senyum bahagia atau senyum kesedihan. Kasuga menundukkan badannya sedikit, pamit, sebelum pergi melangkah lebih jauh dan memasuki keretanya dan membawa nya pulang ke rumah.
Ku hentikan langkah ku ketika melihat seorang remaja berambut kecoklatan gondrong sebahu terlihat tengah bersandar di tiang listrik lampu jalan. Sasuke, dia baru muncul setelah semua kejadian tadi sore. Atau selama ini ia ada, hanya aku saja yang baru bisa melihatnya lagi.
“Apa kau telah mengetahui ini semua?” tanya ku. Malam itu sepi, tidak perlu khawatir orang lain memergoki ku bicara sendirian. “Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?” “Sejak kapan kau dengan Kasuga?” “Kenapa kau melakukan itu kepada Kasuga? Kenapa kau meninggalkannya?!”
Kalap. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, tapi Sasuke tak kunjung bicara pada ku. Aku berhenti bertanya karena tiba-tiba seorang polisi dengan sepedanya, lewat dan berhenti tak jauh dari tempat ku berdiri. “Kau baik-baik saja?” tanya polisi itu sambil menunjukku dengan tongkat polisinya. Dan kemudian Sasuke hilang dari pandangan ku.
“Sasuke ! !”
9 bulan berlalu sejak saat itu. Sasuke masih sering menampakkan jiwa nya, di kelas di bangkunya, di jendela kamar kami, duduk memandang ke arah jalan seperti yang biasa ia lakukan semasa hidup, bahkan di samping Kasuga saat ia berkunjung ke rumah. Iya, seperti janjinya, Kasuga sesekali datang berkunjung ke rumah kami dan Oyakatasama begitu senang akan kehadirannya. Oyakatasama, ia sangat menyayangi Kasuga dan memperhatikan kehamilan Ibu dari anak Sasuke itu. Sesekali Oyakatasama mengantarkan Kasuga cek kehamilan dan lain sebagainya, Kasuga kini benar-benar menjadi bagian dari keluarga kami. Dan aku, aku masih tidak mengerti apa yang harus aku lakukan.
Di tengah lamunan ku, di tengah jam pelajaran, ponsel ku bergetar. “Oyakatasama?” kemudian aku menerima telpon itu dalam tundukkan kepala ku. Sesaat kemudian aku terperangah, mengambil tas ku buru-buru keluar dari kelas, tidak peduli teriakan guru yang sedang mengajar di depan kelas, aku berlari sekuat tenaga, menuju rumah sakit universitas yang tidak begitu jauh dari sekolah.
“Oya..!” lari ku terhenti di salah satu ruangan di rumah sakit. Aku melihat sosok Oyakatasama yang sedang menggendong bayi mungil dengan selimut  putih yang membalut tubuh kecil manusia yang baru lahir itu. Perlahan aku mendekati Oyakatasama yang kemudian menyerahkan anak Kasuga dan Sasuke itu kepada ku. “Sasuke..” bisik ku. Aku kemudian menatap ke arah Kasuga yang masih terlihat kepayahan, dan menatap ku dengan air mata dan sesenggukkan. Aku yakin kali ini air matanya adalah air mata kebahagiaan. “Sasuke !” teriak ku. Oyakatasama, begitupula Kasuga nampak terkejut saat mendengar teriakkan ku. Aku membuangan pandangan ku ke sekeliling ruangan, dan menemukan sosok Sasuke di depan pintu, menyenderkan badannya dengan melipat tangan di dada. Sasuke nampak tersenyum lebar, menghela nafas kemudian mendekati ku yang sedang menggendong bayi kecil nya. Sasuke kemudian nampak mengelus kepala bayi nya, meski tak tersentuh karena mereka berada di dunia yang berbeda.
“Aku serahkan semuanya padamu, Yukimura” Mendengar suara Sasuke, akhirnya setelah selama ini Sasuke hanya berbentuk penampakkan jiwa tanpa raga “Kau juga, menyukai Kasuga kan?” tanpa sadar aku meneteskan air mata ku. Sasuke kemudian membalikkan badannya.
“Sasuke…” panggil ku. Sasuke melangkah keluar tanpa menoleh, hanya mengangkat tangan kanan nya dan sedikit melambaikan tangan dan perlahan menghilang. “Sasuke ! !” aku tak dapat bergerak melainkan menangis dan membiarkan air mata ku jatuh di pipi anak nya bersama Kasuga, Kasuga yang aku sukai selama ini.
Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya. Begitu juga Sasuke, ia juga menjadi orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena saat ia lahir, ia tidak sendirian, ia bersama ku, bahkan sekarang ini setelah ia pergi, ada Oyakatasama, dan juga Kasuga, yang selalu menyayanginya.
“Sasuke !” Panggil Kasuga.
“Iyaaa”
Satu lagi orang yang selalu menyayangi nya. Sasuke, anak nya bersama Kasuga yang diberi nama sama dengannya, karena bagi kami, keberadaannya membuat seolah-olah Sasuke terlahir kembali ke dunia ini.




The End

Rabu, 07 September 2011

[fanfic] Sengoku Basara Fanfiction - I Can't Escape!!


kode title : [fanfic]
title : Sengoku Basara Fanfcition - I Can't Escape!!
music : nope 

title : I Can't Escape!!

author : Meg Kecil

starring : Masamune Date, Itsuki, Chosokabe Motochika, Takeda Shingen

chapter : oneshot

genre : romance

disclaimer : the real owner, father of all Sengoku Basara's chara.. Capcom...

special thanks : once again, zerochan.net, the place where i got the imagination


Itsuki membuka matanya perlahan, sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamarnya membuat matanya agak silau. Itsuki nampak tersentak kaget saat menyadari dirinya tertidur di tempat yang asing bagi dirinya, sampai akhirnya dia menyadari bahwa sebenarnya dia benar-benar berada di tempat tidur nya sendiri, lebih tepatnya tempat tidur nya yang baru di apartemennya yang baru juga. Itsuki tersenyum geli, merasa betapa bodohnya ia. Itsuki merenggangkan kedua tangannya tinggi-tinggi lalu melepaskan pandangan nya ke seluruh sudut kamar, masih kosong, hanya sebuah koper kecil miliknya, yang tergeletak di samping buffet kayu sederhana.”Balkon!” kata Itsuki segera beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar menuju balkon sekedar untuk menghirup udara segar. Sesaat kemudian raut wajahnya berubah, teringat apa alasan yang membawanya sampai kemari. Perjodohan! Jaman macam apa ini masih ada perjodohan? “Lagipula aku kan masih 17 tahun…” keluh Itsuki sambil meletakkan dagu nya di lipatan tangannya yang ia letakkan di atas besi pembatas balkon, dengan pandangan menerawang ke arah jalan kecil di depan apartemen barunya itu. Ayahnya Itsuki, Takeda Shingen, adalah seorang pengusaha kaya dengan karyawan yang jumlahnya puluhan ribu. Shingen berkata pada Itsuki bahwa ia akan ditunangkan dengan salah satu dari karyawan Ayah nya itu. Tentu saja Itsuki menolak, sebagai seorang gadis berumur 17 tahun, mana mau Itsuki memiliki tunangan seorang Salary man dan bayangkan perbedaan umur mereka?! Itsuki tidak ingin membiarkan hal itu terjadi, dan itulah mengapa sekarang ia berada di apartemen kecil ini, apartemen yang jauh dari kediamannya, dengan kata lain, Itsuki kabur dari rumah.

“Jpaarr!!” “Gyaa!!” Suara yang cukup keras dari balkon sebelah membuat Itsuki tersadar dari lamunannya dan spontan berteriak. “Ah! Maaf, apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba terdengar suara pria dari balik tembok pembatas balkon. “Iiya, aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut” kata Itsuki sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang karena masih kaget. “Maafkan aku, aku sedang merapikan kemeja ku” kata pria itu kemudian. “Iya, tidak apa-apa” kata Itsuki. Itsuki yang penasaran mendekati tembok pembatas balkon kemudian melongokkan kepalanya sampai-sampai balkon kamar apartemen sebelah dapat ia lihat dengan jelas, begitu pula dengan pria yang menggunakan tanktop putih dan celana denim hitam yang terlihat sedang menjemur pakaian itu. Sontak wajah Itsuki memerah, apalagi ketika pria itu tiba-tiba berbalik dan memergoki Itsuki yang terlihat seperti sedang mengintip itu. “A! A…. Halo.. Aku.. Aku Itsuki, aku baru saja pindah ke sini, kau tetangga ya? Halo Pak!” kata Itsuki nampak panik. Hening sesaat. “Hai Itsuki” kata pria itu tanpa ekspresi, lalu ia masuk kembali ke apartemennya. Itsuki manyun, hanya itu saja? pikirnya. Ia menarik kembali badannya. “Hanya itu saja?” gerutunya lagi. Ia menaikkan bahunya, bingung sendiri sebenarnya apa yang ia harapkan dari pria itu selain sapaan singkat seperti yang barusan ia lakukan.

Keesokan harinya, Itsuki yang baru saja keluar dari konbini, ia melihat pria tetangga itu melintas, kali ini mengenakan jas yang rapi. “Ah? Pak Tetangga!” panggil Itsuki spontan. Pria itu menoleh dan menemukan Itsuki tersenyum cengengesan ke arahnya. sejurus kemudian mereka berjalan bersama menuju ke apartemen mereka. “Panggil saja aku Masamune” kata pria itu memecah keheningan. Itsuki menoleh ke arah pria itu. “Oh.. Masamune-san?” kata Itsuki. Masamune,pria tetangga itu, tanpa memberikan respon, matanya lurus ke depan. Itsuki manyun. “Kau, salaryman?” tanya Itsuki. “Ah” jawab Masamune membenarkan. Itsuki mendengus, “Lari dari salaryman, ketemu salaryman”, gerutunya. Masamune menoleh ke arah gadis kecil yang berjalan di sampingnya. Itsuki kemudian menoleh sampai akhirnya mereka bertemu pandang. “Eh?!” kata Itsuki langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Masamune terdengar mendengus. Ia kemudian mengelus kepala Itsuki kemudian berjalan lebih cepat. Itsuki yang terkejut, memberhentikan langkahnya dan hanya bisa melihat punggung Masamune yang semakin lama semakin jauh dan tibadi apartemen nya lebih dulu. “Kenapa? Aku kan bukan anak kecil” gerutu Itsuki sambil memegangi kepalanya, Masamune membuat wajahnya memerah.

Itsuki menarik bangku kecil yang tadinya ada di belakang pintu, ke arah balkon dan lebih dekat ke pagar pembatas ke arah jalan. Sebelah tangannya memegang segelas cokelat panas kesukaannya. Ini adalah entah hari keberapa dia dalam pelarian, namun tak habis pikir Itsuki memikirkan, orang tuanya sama sekali tidak mencari nya? Ataukah apartemen ini begitu terpencil sampai-sampai ia sulit ditemukan? “Buat apa aku memikirkan itu, aku kan sedang kabur dari rumah” gerutu Itsuki sambil meminum cokelat panasnya. Pandangan Itsuki tersita dengan sebuah kepulan asap tipis daribalkon sebelah. Itsuki meletakkan gelasnya di atas kursi kemudian ia mendekati tembok pembatas balkon dan melongokan kepalanya. Masamune terlihat menggunakan setelan jersey biru sambil merokok dan entah melihat apa ke arah jalan. “Selamat malam, Masamune-san!” kata Itsuki. Masamune melepaskan rokok dari mulutnya lalu mematikannya ke dalam sebuah asbak kayu. “Kau belum tidur?” tanya Masamune. Itsuki terdiam sejenak, tertegun dengan pertanyaan itu. “Ini kan baru jam 9” kata Itsuki manyun. “Tidak baik anak kecil tidur terlalu malam” kata Masamune sambil beranjak dari kursi nya. “Hey! Aku ini 17 tahun!” kata Itsuki sewot. Masamune tidak memberikan respon, ia masuk begitu saja kembali ke dalam apartemennya dan mengunci pintu. “Dasar orangtua!” kata Itsuki sambil menarik kembali badannya.

Itsuki menutup mulutnya rapat-rapat. Ia berada di lorong sempit diantara gedung toko roti dan konbini yang sering ia kunjungi. Beberapa orang bawahan ayahnya terlihat di sekitar situ dan dia berusaha bersembunyi agar tidak ditemukan. Perlahan Itsuki keluar dari lorong itu dan kabur melalui jalan belakang. Yang ada dipikirannya saat ini adalah lari secepatnya agar bisa kembali ke apartemen sebelum ditemukan oleh orang-orang itu. Tiba-tiba “Brukk!!” Itsuki menabrak seorang pejalan kaki yang nampak seperti seorang salaryman. “Masamune-san!?” kata Itsuki yang menyadari bahwa orang yang barusan ia  tabrak punggungnya itu adalah tetangganya. “Apa yang terjadi?” tanya Masamune saat melihat Itsuki nampak ngos-ngosan dengan bawaan sebuah kantong plastik putih besar dari konbini. Itsuki menoleh, bawahan ayahnya terlihat sedang menyisir setiap orang yang lewat. Itsuki yang panik tanpa pikir panjang membuka kedua ikatan rambutnya dan membiarkan rambutnya yang biru muda hampir putih itu tergerai, dan memeluk Masamune!! “Hey!!” protes Masamune. “Lindungi aku tolong!!” kata Itsuki sambil menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Masamune. Masamune melihat ke sekelilingnya dan terlihat orang-orang mulai memandangi mereka dengan tatapan aneh. Sementara tak jauh dari sana ada beberapa orang dengan jas dan kacamata hitam yang terlihat sedang mencari sesuatu, atau seseorang. “Apa mereka mencari mu?” bisik Masamune, ia melihat Itsuki mengangguk. Saat orang-orang berjas hitam itu semakin dekat, Masamune kemudian memeluk Itsuki sampai akhirnya mereka berlalu dan menyerah, kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi. “Mereka sudah pergi” kata Masamune sambil melepaskan tangan Itsuki yang melingkar di pinggangnya. “Terima kasih” kata Itsuki sambil mengusap wajahnya yang basah. Masamune terkejut, anak ini menangis? batinnya. “Apa yang terjadi?” tanya Masamune. “Aku kabur dari rumah” jawab Itsuki singkat. Itsuki kemudian hendak mengambil kantong belanjaannya yang ia letakkan di sampingnya. Namun Masamune mencegahnya. “Biar aku saja yang bawa” kata Masamune sambil memegang tangan Itsuki. Ia lalu mengambil kantong belanjaan Itsuki untuk dia bawa lalu ia menggenggam tangan Itsuki yang mungil. “Kita pulang” kata Masamune kemudian. “Iya” kata Itsuki terisak.

Sebuah kedai minuman kecil. 2 orang pria salaryman tengah melepas letih di sana. Salah seorangnya adalah Masamune dan yang lainnya adalah Motochika, teman satu kantor dari Masamune. “Dasar pedophile, hahaha” kata Motochika sambil tertawa keras, sepertinya ia mulai mabuk. Motochika baru saja cerita kalau ia melihat Masamune sedang berpelukan dengan seorang anak kecil beberapa waktu yang lalu. Anak kecil yang di maksud adalah Itsuki. Masamune menjelaskan semuanya tetapi Motochika tetap saja menggodanya. “Dia itu 17 tahun” kata Masamune. “Dan kau 32?! Gadis itu separuh dari umur mu, hahahaha” kata Motochika. Masamune mendengus. “Oh ya, ku dengar kau bertunangan? Apa jadinya kalau tunangan mu tau kau pedhopile? haha” kata Motochika terus menggerutu. “Tunangan ku pergi sebelum tau aku pedhopile” kata Masamune sambil meminum sake nya dalam sekali tenggak. “Tapi aku tidak pedhopile!” protes Masamune, sepertinya ia juga sudah mulai mabuk. “Ngomong-ngomong, kau tau? Anak Shingen kabur dari rumah! Hahaha aku dengar itu” kata Motochika sambil beranjak lalu sempoyongan memberikan uang lalu keluar dari kedai. Begitupula Masamune. “Tentu saja aku tau! Sudah ku bilang kan tunangan ku pergi? Anak Shingen itu akan ditunangkan dengan ku” kata Masamune. Motochika menoleh ke arah Masamune. “Ahaha, kau tau Masamune, anak Shingen itu 17 tahun! Bagaimana dia tidak kabur kalau dia akan ditunangkan denga laki-laki 32 tahun?” kata Motochika. “Jangan-jangan gadis yang kau bilang itu anak Shingen?” gerutu Motochika sambil tertawa terbata-bata. Masamune menghentikan langkahnya. Terbayang wajah Itsuki di pikirannya.

Itsuki buru-buru beranjak dari tempat tidurnya saat terdengar seseorang menggedor-gedor kamar apartemennya dan meneriakkan namanya. “Masamune-san?” tanya Itsuki saat melihat Masamune berdiri di depan pintunya. “Bau sake!” kata Itsuki sambil menutup hidungnya. Sadar Masamune mabuk, Itsuki yang menjadi ketakutan menutup pintunya, tetapi berhasil di tahan oleh Masamune yang malah menarik tangannya dan menyeretnya keluar. “Tunggu! Lepaskan!” teriak Itsuki panik. Masamune melepaskan genggamannya, lalu menatap gadis itu. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Masamune dengan tatapan mata yang tajam. “Aku…” kata Itsuki ketakutan. “Kenapa kau kabur dari rumah?” tanya Masamune lagi. Itsuki menggeleng. Masamune berdecak lalu menyandarkan dirinya di dinding lalu terduduk. “Tunangan ku adalah anak dari bos ku, orang kaya yang memiliki perusahaan besar…” kata Masamune sambil memegangi kepalanya yang pusing. Itsuki mendekati Masamune. “Masamune-san, kau mabuk” kata Itsuki sambil memegang pundak Masamune, Itsuki tidak ingin Masamune menceritakan masalah pribadinya saat ia tengah mabuk, Itsuki merasa ia tidak harus mendengarkan itu. “Tapi dia kabur dari rumahnya saat kami harus bertemu pertama kalinya…” lanjut Masamune sambil menepis tangan Itsuki dari pundaknya. Itsuki tersentak, antara kaget dengan tepisan dari Masamune, dan juga cerita yang baru saja diucapkan olehnya. “Katanya dia gadis 17 tahun… Bodoh! Pantas saja dia kabur… Salaryman tua seperti ku tidak pantas… Untuk gadis 17 tahun anak orang kaya…” Masamune berusaha berdiri. Melihat itu Itsuki berusaha membantu, tetapi lagi-lagi Masamune menepis tangannya. “Masamune-san.. Aku…” kata Itsuki dengan wajah yang sedih. “Pulanglah putri Shingen” sempoyongan Masamune berjalan menuju pintu kamar apartemennya “Kau tidak seharusnya bertemu dengan seorang Salaryman saat kau menghindari Salaryman” gerutu Masamune saat meninggalkan Itsuki yang sedang galau.

Masamune membuka matanya perlahan, baru ia sadari dirinya tertidur di atas sofa. Saat  mendengar sebuah ketukan kecil di pintu kamar apartemennya, sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing, Masamune beranjak dari sofa tempatnya tidur dan membukakan pintu. “Kau?” tanya Masamune saat melihat Itsuki berdiri tegap di depan pintu kamarnya dengan sebuah koper kecil disampingnya. Masamune hanya mengkerutkan keningnya. “Aku akan pulang!” kata Itsuki manyun. Masamune tersentak. “Kali ini aku tidak akan kabur, dan harus ku pastikan Pak Tetangga datang ke rumah ku!” kata Itsuki sambil menunjuk ke arah Masamune, setelah mengatakan itu, wajah Itsuki malah memerah. Masamune hanya diam, lebih tepatnya terkejut. “Aku pulang!” kata Itsuki sambil melambaikan tangannya, lalu berbalik dan menarik koper kecilnya. Tanpa pikir panjang, Masamune menarik tubuh kecil Itsuki ke dalam pelukannya, dan memeluknya dari belakang dengan erat. “Ma.. Masamune-san!” kata Itsuki sedikit meronta, wajahnya merah padam. “Biarkan sebentar dulu” bisik Masamune. Mendengar itu Itsuki berhenti meronta, malah memegangi tangan Masamune dan rasanya tidak ingin membiarkan Masamune melepaskan pelukannya itu. “Aku suka Masamune-san” kata Itsuki kemudian. “Tapi aku Salaryman dan tua” kata Masamune. “Tidak apa-apa, lagipula kau tidak setua ayahku” kata Itsuki sambil mengelus tangan Masamune. Masamune melepaskan pelukannya, Itsuki membalikkan badannya dan menatap pria itu. Masamune kemudian tersenyum lembut begitupula dengan Itsuki. “Kau pulang dengan ku saja” kata Masamune sambil menarik koper kecil milik Itsuki ke dalam apartemennya. Itsuki terdiam di depan pintu. “Kau tidak mau masuk?” tanya Masamune saat menyadari Itsuki masih berada di luar. “Mau!!” kata Itsuki sambil mengangguk tegas lalu masuk ke kamar apartemen Masamune dan menutup pintunya. “Bagaimana aku bilang ke Pak Boss?” tanya Masamune, suaranya terdengar dari luar kamar. “Serahkan saja padaku!” kata Itsuki kemudian.





FIN