Tampilkan postingan dengan label sanada yukimura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanada yukimura. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

[Fanfic] SASUKE

SENGOKU BASARA Fanfiction

title : Sasuke

author :Meg-Kecil

cast : Sanada Yukimura as Yukimura, Kasuga as Kasuga, Sarutobi Sasuke as Sasuke, Takeda Shingen as Oyakatasama

genre : family, supernatural

disclaimer : I just write the story





Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya.
Sudah ku duga, pagi ini pun Oyakatasama duduk di depan altar itu, altar yang disusun sedemikian rupa dengan foto seorang anak remaja laki-laki yang nampak seumuran dengan ku, tetapi senyum nya membuatnya nampak lebih dewasa. Sasuke, meskipun kami kembar tapi tidak ada yang begitu persis di antara kami. Mungkin Sasuke nampak terlihat lebih dewasa dari ku, karena sakit nya, Sasuke tumbuh menjadi anak laki-laki yang lebih menghargai hidup nya.
“Oi, Yukimura” begitu fokus ia mendo’akan jiwa Sasuke dihadapan altarnya, Oyakatasama nampak baru menyadari keberadaan ku di depan pintu ruangan itu. “Selamat.. ulang tahun! ” kata Oyakatasama dari tempat duduknya. Wajah nya nampak mencoba untuk tegar, meski matanya menampakkan betapa ia berusaha untuk tidak menangis. Hari ini adalah ulang tahun ku, ulang tahun Sasuke juga dan tepat 10 hari setelah kepergiannya kembali ke Maha Pencipta.
“Terima kasih” jawab ku singkat. Oyakatasama beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan. Sekilas ia menepuk pundak ku. Aku hanya diam dan menatap lurus ke arah bingkai foto Sasuke dan sedikit membisikkan namanya.
Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya. Benar kata oyakatasama, aku adalah orang yang tidak pernah kesepian bahkan setelah kepergian Sasuke, karena Sasuke tidak benar-benar pergi.
“Ini sudah hari ke-10” gerutu ku. Seorang remaja laki-laki berambut gondrong sebahu berwarna kecoklatan duduk berjongkok di samping ku, kedua tangannya ia topang lurus di atas lututnya, pandangannya nampak menerawang ke arah pintu masuk area atap. “Apa kau tidak kasihan melihat Oyakatasama yang selalu mendo’akan ketenangan jiwa mu?” Sasuke hanya diam dan terlihat menghela nafas, sebenarnya aku tidak tahu, bagaimana bisa Sasuke yang sekarang hanya seonggok jiwa tanpa raga itu dapat menghela nafas, yang ku tau sekarang ia sudah lebih bebas dibandingkan semasa ia hidup dulu, yang bahkan terkadang untuk bernafas pun sulit karena penyakitnya. Aku menoleh ke belakang, ke arah di mana Sasuke begitu lekat menatap dari tadi, pintu masuk area atap, beberapa siswa lain mulai banyak berdatangan dengan membawa bekal makan siang mereka, ada pula yang tidak membawa apapun, hanya sekedar mencari angin atau berkumpul dengan teman-teman nya. Aku kembali menatap ke arah halaman sekolah yang dapat terlihat jelas dari sini dan mengurangi ‘obrolan’ ku bersama Sasuke, yang tidak pernah satu kali pun bicara semenjak ia telah menjadi jiwa tanpa raga itu, atau orang lain akan menganggap ku gila karena bicara sendirian. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku dapat melihat sosok Sasuke seperti ini. Terakhir kali ku ingat bahwa aku adalah orang biasa yang tidak pernah dapat melihat hantu atau makhluk sejenisnya, atau mungkin karena aku dan Sasuke kembar dan ikatan kami begitu erat sehingga ia dapat terlihat oleh ku saja yang bahkan Oyakatasama pun tidak dapat menyadari kehadiran nya? Entahlah.
Pantulan sinar matahari siang menjelang sore itu membuat air sungai di bawah jembatan jalan menuju rumah begitu berkilauan. Sekilas teringat masa kecil ku bersama Sasuke yang sering berburu ikan-ikan kecil di sana atau bahkan hanya sekedar tidur-tiduran sepulang sekolah, membaui wangi rumput hijau yang menjadi kesukaan kami berdua.
Langkahku terhenti ketika melihat sesosok gadis dengan rambut pendek kuning pucat tetapi panjang pada sedikit bagian sisi kanan-kiri nya, gadis yang selalu ku dengar nama nya setiap Sasuke bercerita tentang apa yang membuatnya bahagia hari-hari nya. “Kasuga?” sapa ku pada Gadis dengan wajah yang terkadang membuat orang salah paham mengiranya adalah gadis antagonis namun sebenarnya memiliki kepribadian yang unik itu.
Terdiam sejenak aku di depan pintu, sedikit berpikir bagaimana reaksi Oyakatasama melihat ku membawa seorang gadis ke rumah.
“Aku pulang” salam ku begitu memasuki rumah. Tak lama kemudian Oyakatasama muncul dari dalam rumah.
“O, kau sudah pulang, Yukimura?” tanya Oyakatasama. Sedikit terkejut ia menatap Kasuga yang kemudian menundukkan badannya.
 “Baik Yukimura maupun Sasuke tidak pernah membawa pulang teman-teman nya, ku kira mereka tidak punya teman, syukurlah kalau aku salah” Oyakatasama membuka pembicaraan makan malam hari itu. Oyakatasama ternyata mempersiapkan perayaan ulang tahun ku (dan Sasuke) dengan memasak beberapa masakan untuk makan malam. Sebenarnya Kasuga berkata ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, entah tentang apa, aku tidak pernah merasa aku atau Sasuke memiliki sesuatu yang membuat Kasuga harus meluangkan waktu nya untuk berkunjung ke kediaman kami. Tetapi Oyakatasama meminta untuk kami makan malam sebentar sebelum membicarakan hal yang nampaknya akan menjadi pembicaraan serius ini. Sesekali aku menatap Kasuga yang nampak tidak nyaman, seperti banyak sekali hal yang ia pikirkan. Dan ku rasa, baru kali ini aku melihat wajah Kasuga dari jarak sedekat ini, ia duduk di samping ku. Aku mengerti kenapa Sasuke jatuh cinta pada gadis ini, meski aku tidak pernah tau bagaimana sebenarnya hubungan keduanya.
“A! Kasuga-kun, tidak usah dibantu, kau kan tamu, biar Yukimura dan aku yang membereskan ini semua” larang Oyakatasama ketika melihat Kasuga mengangkat piring nya setelah makan dan membawa nya ke tempat cuci piring. Aku mencoba mengambil piring dari tangan Kasuga, tetapi Kasuga menolak dan bersikeras untuk  membantu mencuci piring, dan akhirnya Oyakatasama membiarkannya membantu.
Setelah semuanya beres, kami bertiga kembali berkumpul untuk mendengarkan apa yang membawa Kasuga ke kediaman kami, berkumpul di samping altar Sasuke, karena Kasuga bilang ia ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan saudara kembar ku itu. Aku melempar pandangan ku ke sekeliling ruangan, tapi aku tak menemui sosok Sasuke.
“Aku… sedang mengandung anak Sasuke”
Singkat, padat dan sangat jelas. Kata-kata itu membuat ku dan Oyakatasama tercengang. Jantung ku berdetak sangat cepat! Seolah mengetahui alasan kenapa Sasuke menjadi jiwa yang tidak tenang setelah ia mati! Aku menatap ke arah Oyakatasama yang nampak sangat terkejut dan memegangi kepalanya, pengakuan ini membuatnya banyak berpikir.
“Sasuke..!” Oyakatasama mendongakkan kepalanya, menelan ludahnya dan menekan pangkal hidungnya. Kebiasaan Oyakatasama sejak dulu untuk menahan agar air matanya tidak keluar saat ia sedih tapi tidak ingin kelihatan oleh ku dan Sasuke. Kemudian ia beranjak dari tempat duduk nya, perlahan meraih pundak Kasuga dan membawa nya dalam pelukan hangat Oyakatasama. Sesaat kemudian aku melihat linangan air mata di pipi Kasuga dalam pelukan Oyakatasama. Aku mengerti kesedihan itu, kesedihan Oyakatasama yang merasa bersalah kepada Kasuga karena salah satu anak nya telah meninggalkan kekasih nya yang tengah mengandung cucu nya kelak, juga kesedihan Kasuga. Aku tau Sasuke menyukai Kasuga, tetapi aku tak pernah melihat Kasuga membalas etikat baik saudara kembar ku itu hingga aku tidak pernah menyangka hubungan mereka ternyata sudah sejauh ini, tetapi air mata Kasuga cukup membuat dada ku sesak dan yakin bahwa perasaannya yang begitu mencintai Sasuke hanya dia yang tahu dan orang lain tidak, bahkan saudara kembar Sasuke sendiri, aku, tidak tau.
Stasiun. Oyakatasama memintaku untuk mengantar Kasuga pulang. Sepanjang jalan begitu sepi, tidak ada pembicaraan baik dari ku, maupun Kasuga. Meskipun satu sekolah, kami beda kelas dan aku tidak begitu kenal dengan gadis yang sering jadi perhatian siswa laki-laki ini. Beruntung Sasuke mendapatkan nya.
“Apa kau akan datang ke sekolah besok?” tanya ku saat Kasuga telah melewati pintu tiket stasiun, aku dan Kasuga terpisah oleh mesin tiket masuk.
“Ku rasa aku tidak akan datang ke sekolah lagi” kata Kasuga. Ia kemudian meletakkan tangan di atas perutnya, sedikit mengelus dan tersenyum. Tapi aku tidak tau apa arti senyuman itu, entah senyum bahagia atau senyum kesedihan. Kasuga menundukkan badannya sedikit, pamit, sebelum pergi melangkah lebih jauh dan memasuki keretanya dan membawa nya pulang ke rumah.
Ku hentikan langkah ku ketika melihat seorang remaja berambut kecoklatan gondrong sebahu terlihat tengah bersandar di tiang listrik lampu jalan. Sasuke, dia baru muncul setelah semua kejadian tadi sore. Atau selama ini ia ada, hanya aku saja yang baru bisa melihatnya lagi.
“Apa kau telah mengetahui ini semua?” tanya ku. Malam itu sepi, tidak perlu khawatir orang lain memergoki ku bicara sendirian. “Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?” “Sejak kapan kau dengan Kasuga?” “Kenapa kau melakukan itu kepada Kasuga? Kenapa kau meninggalkannya?!”
Kalap. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, tapi Sasuke tak kunjung bicara pada ku. Aku berhenti bertanya karena tiba-tiba seorang polisi dengan sepedanya, lewat dan berhenti tak jauh dari tempat ku berdiri. “Kau baik-baik saja?” tanya polisi itu sambil menunjukku dengan tongkat polisinya. Dan kemudian Sasuke hilang dari pandangan ku.
“Sasuke ! !”
9 bulan berlalu sejak saat itu. Sasuke masih sering menampakkan jiwa nya, di kelas di bangkunya, di jendela kamar kami, duduk memandang ke arah jalan seperti yang biasa ia lakukan semasa hidup, bahkan di samping Kasuga saat ia berkunjung ke rumah. Iya, seperti janjinya, Kasuga sesekali datang berkunjung ke rumah kami dan Oyakatasama begitu senang akan kehadirannya. Oyakatasama, ia sangat menyayangi Kasuga dan memperhatikan kehamilan Ibu dari anak Sasuke itu. Sesekali Oyakatasama mengantarkan Kasuga cek kehamilan dan lain sebagainya, Kasuga kini benar-benar menjadi bagian dari keluarga kami. Dan aku, aku masih tidak mengerti apa yang harus aku lakukan.
Di tengah lamunan ku, di tengah jam pelajaran, ponsel ku bergetar. “Oyakatasama?” kemudian aku menerima telpon itu dalam tundukkan kepala ku. Sesaat kemudian aku terperangah, mengambil tas ku buru-buru keluar dari kelas, tidak peduli teriakan guru yang sedang mengajar di depan kelas, aku berlari sekuat tenaga, menuju rumah sakit universitas yang tidak begitu jauh dari sekolah.
“Oya..!” lari ku terhenti di salah satu ruangan di rumah sakit. Aku melihat sosok Oyakatasama yang sedang menggendong bayi mungil dengan selimut  putih yang membalut tubuh kecil manusia yang baru lahir itu. Perlahan aku mendekati Oyakatasama yang kemudian menyerahkan anak Kasuga dan Sasuke itu kepada ku. “Sasuke..” bisik ku. Aku kemudian menatap ke arah Kasuga yang masih terlihat kepayahan, dan menatap ku dengan air mata dan sesenggukkan. Aku yakin kali ini air matanya adalah air mata kebahagiaan. “Sasuke !” teriak ku. Oyakatasama, begitupula Kasuga nampak terkejut saat mendengar teriakkan ku. Aku membuangan pandangan ku ke sekeliling ruangan, dan menemukan sosok Sasuke di depan pintu, menyenderkan badannya dengan melipat tangan di dada. Sasuke nampak tersenyum lebar, menghela nafas kemudian mendekati ku yang sedang menggendong bayi kecil nya. Sasuke kemudian nampak mengelus kepala bayi nya, meski tak tersentuh karena mereka berada di dunia yang berbeda.
“Aku serahkan semuanya padamu, Yukimura” Mendengar suara Sasuke, akhirnya setelah selama ini Sasuke hanya berbentuk penampakkan jiwa tanpa raga “Kau juga, menyukai Kasuga kan?” tanpa sadar aku meneteskan air mata ku. Sasuke kemudian membalikkan badannya.
“Sasuke…” panggil ku. Sasuke melangkah keluar tanpa menoleh, hanya mengangkat tangan kanan nya dan sedikit melambaikan tangan dan perlahan menghilang. “Sasuke ! !” aku tak dapat bergerak melainkan menangis dan membiarkan air mata ku jatuh di pipi anak nya bersama Kasuga, Kasuga yang aku sukai selama ini.
Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya. Begitu juga Sasuke, ia juga menjadi orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena saat ia lahir, ia tidak sendirian, ia bersama ku, bahkan sekarang ini setelah ia pergi, ada Oyakatasama, dan juga Kasuga, yang selalu menyayanginya.
“Sasuke !” Panggil Kasuga.
“Iyaaa”
Satu lagi orang yang selalu menyayangi nya. Sasuke, anak nya bersama Kasuga yang diberi nama sama dengannya, karena bagi kami, keberadaannya membuat seolah-olah Sasuke terlahir kembali ke dunia ini.




The End

Minggu, 06 Maret 2011

[fanfic] Sengoku Basara Fanfiction - Because Your Eyes

kode posting : [fanfic]
title : Sengoku Basara Fanfiction - Because Your Eyes
current music : nope


title : Because Your Eyes

author : Meg Kecil

starring : Masamune Date, Sanada Yukimura, Chosukabe Motochika, Sarutobi Sasuke, Katakura Kojourou

chapter : oneshot

genre : action, friendship, pairing, love each other

disclaimer : the real owner, father of all Sengoku Basara's chara.. Capcom...

special thanks : zerochan.net (yang telah memperlihatkan sisi lain dari dunia Sengoku Basara sehingga memunculkan ide untuk pembuatan fanfic ini)




SMU Sengoku...

Sanada menemukan Date yang tertidur di lantai atap sekolah. Entah perasaan apa yang membuatnya ingin mendekati cowok dengan eyepatch di mata kanan nya itu. Betapa terkejutnya Sanada saat melihat orang yang mengenakan tshirt biru dibalik gakuran nya itu tengah menangis dalam tidurnya! Spontan Sanada menyentuh pipi Date dan menyeka air matanya. Tiba-tiba tangan Date menyergap tangan Sanada.

“Gawat!” batin Sanada. Dalam paniknya, Sanada mendengar Date mengegrutu, menyebutkan nama seseorang.

“Katakura…”

Pelan, Date menoleh. Saat membuka matanya, Date menyadari bahwa tangan yang ia genggam sekarang bukan tangan dari orang yang baru saja ia temui dalam mimpinya, bukan orang yang baru saja ia sebut namanya dalam igauan nya. Tetapi seorang anak muda sebayanya, cowok berambut merah dengan tshirt merah di balik gakuran yang sengaja tidak ia kancing. Merasa asing, Date melepas genggaman tangannya terhadap tangan Sanada.

“Maaf, aku tidak bermaksud membangunkan mu” kata Sanada sambil memegangi pergelangan tangannya. Meski tidur, genggaman tangan Date begitu erat dan kuat dan menyisakan sakit. Perlahan Date bangun dan duduk. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing. “Kau tidak apa-apa?” tanya Sanada saat melihat Date yang terlihat begitu lemah.

“Ah” kata Date yang mengisyaratkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Ia kemudian beranjak, meninggalkan Sanada sendirian di atap.

***

“Tshirt biru dan menggunakan eyepatch di mata kanan nya?? Tidak salah lagi, Masamune Date, One-Eyed-Dragon, sebagai murid baru kau memang harus mengetahui tentang dia. Dia adalah berandalan nomer satu dari sekolah kita. Dia adalah orang kuat dan ditakuti berandalan-berandalan dari sekolah lain. Ku sarankan kau jangan berurusan dengan orang itu” kata Sasuke. Saat Sanada bertanya kepada teman pertama di sekolah barunya itu, Sasuke hanya bisa memperingatkannya.

“Date… Orang berbahaya ya?..” gerutu Sanada.

“Yah… bisa dibilang begitu” kata Sasuke sambil melempar kaleng minuman tepat ke bak sampah yang cukup jauh dari tempatnya berada.

Sanada menggelengkan kepalanya pelan. Orang berbahaya? Batin nya. “Ah! Sasuke!” kata Sanada teringat sesuatu. Sasuke kemudian berbalik dan berjalan mendekati Sanada. “Katakura.. Apa kau mengenal orang yang bernama Katakura?” tanya Sanada teringat akan nama yang disebut-sebut oleh Date dalam tidur nya siang itu. Sasuke mengerutkan dahinya, menatap heran ke arah Sanada.

“Darimana kau tau nama itu?” tanya Sasuke curiga.

“Ah, itu…” Sanada memegangi kepalanya. Rambut merahnya mengisi setiap sela-sela jemarinya.

“Dia… adalah orang penting bagi Date” kata Sasuke dengan kedua tangan yang masuk ke dalam kantong celana dan menendang kerikil yang berada tepat di hadapan telapak kaki nya. Sanada tersentak. “Pada saat perkelahian dengan SMU Basara, Katakura meninggal akibat pendarahan kepala yang sangat hebat. Date sangat terpukul akan hal itu. Ku rasa karena itu lah ia tak lagi berkelahi dan berbuat onar” jelas Sasuke.

“Ah” kata Sanada mengerti. Kini ia tau arti dari air mata Date dalam tidurnya saat itu. “Orang penting ya..” pikirnya. Sanada lalu beranjak dari ayunan yang sedari tadi ia duduki.

“Mau kemana kau?” tanya Sasuke.

“Pulang” kata Sanada menoleh sedikit ke belakang melalui pundaknya.

“Berhati-hatilah!!” kata Sasuke. Sanada hanya mengangkat tangannya, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Bruk!!

Tanpa sengaja Sanada menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Karena merasa bersalah Sanada buru-buru meminta maaf.

“Date…” kata Sanada spontan saat melihat orang yang baru saja ia tabrak. Orang itu sama-sama mengenakan eyepatch seperti Date, bedanya orang itu mengenakan di sebelah kiri sedangkan Date menutupi mata sebelah kanannya.

“Apa?” kata orang yang berbadan tinggi besar itu dengan nada tersinggung sambil mendekati Sanada. Ia kemudian menatap Sanada dari ujung kepala sampai ujung kaki. Merasa terganggu dengan pandangan orang itu, Sanada hanya bisa mengerutkan dahi. “Jadi kau anak SMU Sengoku, huh?!” kata orang itu dengan nada bicara yang kasar.

“Ah! Memang kenapa?!” tanya Sanada membalas dengan tatapan tajam.

“Ku dengar kau tadi menyebut nama Date. Apa kau tidak tau? Aku tidak suka jika ada orang yang menyebut-nyebut namanya. Ah.. Aku jadi kesal… Rasanya… aku jadi sangat marah dan ingin… menghabisimu!!!”

***

Date menunduk mengambil minuman kaleng nya yang baru keluar dari mesin penjual minuman. Tiba-tiba ia mendengar pembicaraan beberapa orang yang lewat.

“Ku dengar Motochika kembali berulah?”

“Iya, lagi-lagi dengan anak SMU Sengoku. Kasihan anak itu. Padahal ku dengar ia baru saja pindah ke kota ini, sial sekali sudah langsung bertemu dengan Motochika, haha”

“Si rambut merah itu ya?! Aku melihatnya di kereta tadi pagi. Dia memang terlihat mencolok!”

Mendengar hal itu, yang terbayang oleh Date adalah seseorang berambut merah yang wajah nya tidak begitu ia ingat karena cahaya yang silau. Seseorang yang tidak ia kenal yang telah menyeka air matanya tadi siang.

***

“Uaaagggh!!!!!”

Tinjuan yang diberikan Motochika, ketua berandalan dari SMU Basara yang tanpa sengaja telah ditabrak oleh Sanada tadi, membuat Sanada sedikit muntah darah. Sanada tak mampu melawan karena ia berada dalam keadaan terikat.

“Apa… yang kau inginkan.. dariku?!” tanya Sanada terbata-bata. Darah segar mengalir dari ujung-ujung bibirnya. Dia terlihat begitu payah.

“Tidak ada, aku hanya tidak suka melihatmu!!”

Buggh!!!! Satu pukulan lagi dilancarkan Motochika ke arah wajah Sanada.

“Kau tau!?! Kau telah membuatku kesal!!!!”

Motochika kembali meninju arah perut Sanada. Sanada menjadi benar-benar kepayahan dan tidak mampu berbuat apapun. Ia hanya bisa tertunduk dan rambut merahnya menutupi wajahnya. Motochika mendekati Sanada lalu mengangkat dagunya. Sanada terlihat hampir pingsan.

“Sudah lama aku tidak bertemu Date” kata Motochika kemudian, dengan nada suara yang lebih lembut.

“Jika kau menyiksa ku hanya untuk bertemu Date, kau tidak akan bertemu dengannya. Dia tidak akan datang…” kata Sanada lirih. “Maka dari itu lepaskan aku…” pinta Sanada.

“MOTOCHIKAAA!!!!”

Suara itu bergema di gudang tua itu. Motochika hanya bisa tersenyum ke arah Sanada.

“Lihatkan?” Motochika lalu melepaskan tangannya dari dagu Sanada dengan kasar. Ia lalu berbalik dan berjalan ke arah orang yang telah meneriakkan namanya tadi. Masamune Date.

“Sudah lama tidak berjumpa, Date…” kata Motochika sambil merentangkan tangannya, mengharapkan sebuah pelukan dari Date.

“Berisikkk!!!” teriak Date. Date kemudian berlari, bukan untuk memeluk Motochika tapi memberikan sebuah tamparan yang kuat ke arah wajahnya hingga Motochika jatuh tersungkur.

“Kenapa…” gerutu Sanada lirih hampir tidak terdengar.

Gerombolan Motochika panik saat melihat boss mereka tersungkur, mereka hampir menyerang Date seandainya Motochika tidak berdiri dan mengehentikan mereka dengan isyarat tangannya. Gerombolan Motochika mengambil langkah mundur.

“Ini….” Motochika berdiri. “…adalah pertempuran ku dengan Date!!!” Motochika berbalik dan kembali menyerang Date. Date tidak dapat menghindar sehingga pukulannya tepat mengenai wajahnya hingga ia jatuh tersungkur. Motochika lalu berdiri di atas tubuh Date. Ia lalu menarik kerah baju Date. Dan hampir meninjunya, tapi…

“Anak itu…” kata Date. Motochika mengehentikan serangannya. “Tidak seperti Katakura!!!!” Date lalu menyerang Motochika balik sehingga ia bisa lepas dari cengkramannya. Dan perkelahian itu semakin sengit.

***

Beberapa waktu yang lalu…

“One-Eyed-Dragon… Mau kah kau bergabung bersama ku?” Motochika mengulurkan tangannya, pada Date.

“SMU Basara dan SMU Sengoku? Selamanya tidak akan pernah bersatu” kata Date.

“Kau kehilangan mata kanan mu dan aku memiliknya! Aku kehilangan mata kiri ku dan kau memilikinya!! Bukankah akan sempurna jika kita bersama?!” kata Motochika.

“Maaf, tapi aku sudah memiliki ‘mata kanan’ ku” kata Date sambil melangkah meninggalkan Motochika.

“Date!!” Motochika menarik tangan Date.

“Lepaskan… Motochika” kata Date dengan pandangan sinis. Motochika tertegun. Ia tak bisa melakukan apapun dengan tatapan Date yang seperti itu terhadapnya, kecuali melepaskannya. Date kemudian meninggalkan Motochika dan dari tikungan, Katakura muncul dan berjalan mengikuti Date di belakangnya.

“Katakura….” geram Motochika

***

Brukkk!!

Motochika jatuh tersungkur di hadapan tempat terikatnya Sanada. Sanada yang setengah sadar menatap raum Motochika yang tepat berhadapan dengan telapak kakinya. Date lalu membalikkan badan Motochika yang tidak berdaya dengan kaki nya. Ia lalu menarik kerah Motochika. Dengan sergap, Motochika memegang tangan Date. Dan tangan kirinya kemudian memegangi ke pipi Date. Date terkejut! Tiba-tiba ia teringat denga Katakura yang dulu melakukan hal yang sama saat ia ditemukan oleh Date dengan bersimbah darah. Perasaan Date menjadi kacau!!

“Ayo.. bunuhlah aku” kata Motochika. “Date…”

Date memjamkan matanya kuat-kuat. Ia terbayang bagaimana gudang ini, gudang yang sama, saat itu, menjadi begitu hening saat Motochika berhasil melumpuhkan Katakura. Saat dirinya tak mampu lagi melawan Motochika. Saat Motochika pun terdiam dan tidak pernah ia membayangkan bahwa ia mampu melakukan hal sejahat itu. Saat Katakura tersungkur. Saat dia memeluk Katakura. Saat Katakura menginginkan Date untuk tidak melakukan apapun kepada Motochika meski ia merasa dendam. Saat Katakura berkata bahwa sebenarnya Date adalah orang yang paling berharga bagi Motochika. Saat Katakura berkata bahwa Date adalah orang yang paling berharga bagi dirinya. Saat Katakura meminta maaf karena Date harus kehilangan lagi sebelah ‘mata kanan’ nya. Saat Katakura menutup matanya. Semua itu.. kembali teringat di pikiran Date.

“Katakura…”

Saat membuka lagi matanya, Date hanya bisa melepas cengkraman tangannya dari kerah Motochika. Lalu berdiri dan menatapnya dengan tatapan sinis. Melihat hal itu, gerombolan dari Motochika mendekati Motochika dan berusaha membopong boss mereka itu dan membawa nya menjauhi Date sementara Date melepaskan ikatan Sanada. Sanada yang lemah, terjatuh di pelukan Date. Ia kemudian membopong Sanada keluar dari gudang itu. Sebelumnya Date sempat memperingatkan Motochika untuk tidak mengganggunya lagi karena ia tidak bisa berjanji akan membiarkannya hidup jika suatu saat hal yang seperti ini terjadi lagi. Motochika hanya tersenyum, namun senyumannya seolah patuh apa yang dikatakan oleh Date.

“Kenapa… kau… menyelamatkan ku?” tanya Sanada lirih, tepat di samping telinga Date, saat ia tersadar dari pingsannya.

“Karena kau telah menghapus air mataku” kata Date dingin.

Sanada berusaha tersenyum dengan bibirnya yang terluka itu. "Date..."

"Ah?" tanya Date.

"Terima kasih" kata Sanada.






FIN





gyahahahaha

tamatnya gaje!!
( T^T)o
maaf... tapi mengumpulkan ide untuk menulis cerita ini benar-benar sangat menguras tenaga,
tidak mandi dan tidak makan hanya untuk membuat fanfic ini hahaha


terima kasih untuk membaca
jika ada komentar, sekiranya ada kekurangan dari fanfic ini, uneg-uneg, silahkan komen...
komentar anda sangat berharga demi kemajuan sang author..
terima kasih sekali lagi
m(_ _)m