Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

[Fanfic] SASUKE

SENGOKU BASARA Fanfiction

title : Sasuke

author :Meg-Kecil

cast : Sanada Yukimura as Yukimura, Kasuga as Kasuga, Sarutobi Sasuke as Sasuke, Takeda Shingen as Oyakatasama

genre : family, supernatural

disclaimer : I just write the story





Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya.
Sudah ku duga, pagi ini pun Oyakatasama duduk di depan altar itu, altar yang disusun sedemikian rupa dengan foto seorang anak remaja laki-laki yang nampak seumuran dengan ku, tetapi senyum nya membuatnya nampak lebih dewasa. Sasuke, meskipun kami kembar tapi tidak ada yang begitu persis di antara kami. Mungkin Sasuke nampak terlihat lebih dewasa dari ku, karena sakit nya, Sasuke tumbuh menjadi anak laki-laki yang lebih menghargai hidup nya.
“Oi, Yukimura” begitu fokus ia mendo’akan jiwa Sasuke dihadapan altarnya, Oyakatasama nampak baru menyadari keberadaan ku di depan pintu ruangan itu. “Selamat.. ulang tahun! ” kata Oyakatasama dari tempat duduknya. Wajah nya nampak mencoba untuk tegar, meski matanya menampakkan betapa ia berusaha untuk tidak menangis. Hari ini adalah ulang tahun ku, ulang tahun Sasuke juga dan tepat 10 hari setelah kepergiannya kembali ke Maha Pencipta.
“Terima kasih” jawab ku singkat. Oyakatasama beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan. Sekilas ia menepuk pundak ku. Aku hanya diam dan menatap lurus ke arah bingkai foto Sasuke dan sedikit membisikkan namanya.
Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya. Benar kata oyakatasama, aku adalah orang yang tidak pernah kesepian bahkan setelah kepergian Sasuke, karena Sasuke tidak benar-benar pergi.
“Ini sudah hari ke-10” gerutu ku. Seorang remaja laki-laki berambut gondrong sebahu berwarna kecoklatan duduk berjongkok di samping ku, kedua tangannya ia topang lurus di atas lututnya, pandangannya nampak menerawang ke arah pintu masuk area atap. “Apa kau tidak kasihan melihat Oyakatasama yang selalu mendo’akan ketenangan jiwa mu?” Sasuke hanya diam dan terlihat menghela nafas, sebenarnya aku tidak tahu, bagaimana bisa Sasuke yang sekarang hanya seonggok jiwa tanpa raga itu dapat menghela nafas, yang ku tau sekarang ia sudah lebih bebas dibandingkan semasa ia hidup dulu, yang bahkan terkadang untuk bernafas pun sulit karena penyakitnya. Aku menoleh ke belakang, ke arah di mana Sasuke begitu lekat menatap dari tadi, pintu masuk area atap, beberapa siswa lain mulai banyak berdatangan dengan membawa bekal makan siang mereka, ada pula yang tidak membawa apapun, hanya sekedar mencari angin atau berkumpul dengan teman-teman nya. Aku kembali menatap ke arah halaman sekolah yang dapat terlihat jelas dari sini dan mengurangi ‘obrolan’ ku bersama Sasuke, yang tidak pernah satu kali pun bicara semenjak ia telah menjadi jiwa tanpa raga itu, atau orang lain akan menganggap ku gila karena bicara sendirian. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau aku dapat melihat sosok Sasuke seperti ini. Terakhir kali ku ingat bahwa aku adalah orang biasa yang tidak pernah dapat melihat hantu atau makhluk sejenisnya, atau mungkin karena aku dan Sasuke kembar dan ikatan kami begitu erat sehingga ia dapat terlihat oleh ku saja yang bahkan Oyakatasama pun tidak dapat menyadari kehadiran nya? Entahlah.
Pantulan sinar matahari siang menjelang sore itu membuat air sungai di bawah jembatan jalan menuju rumah begitu berkilauan. Sekilas teringat masa kecil ku bersama Sasuke yang sering berburu ikan-ikan kecil di sana atau bahkan hanya sekedar tidur-tiduran sepulang sekolah, membaui wangi rumput hijau yang menjadi kesukaan kami berdua.
Langkahku terhenti ketika melihat sesosok gadis dengan rambut pendek kuning pucat tetapi panjang pada sedikit bagian sisi kanan-kiri nya, gadis yang selalu ku dengar nama nya setiap Sasuke bercerita tentang apa yang membuatnya bahagia hari-hari nya. “Kasuga?” sapa ku pada Gadis dengan wajah yang terkadang membuat orang salah paham mengiranya adalah gadis antagonis namun sebenarnya memiliki kepribadian yang unik itu.
Terdiam sejenak aku di depan pintu, sedikit berpikir bagaimana reaksi Oyakatasama melihat ku membawa seorang gadis ke rumah.
“Aku pulang” salam ku begitu memasuki rumah. Tak lama kemudian Oyakatasama muncul dari dalam rumah.
“O, kau sudah pulang, Yukimura?” tanya Oyakatasama. Sedikit terkejut ia menatap Kasuga yang kemudian menundukkan badannya.
 “Baik Yukimura maupun Sasuke tidak pernah membawa pulang teman-teman nya, ku kira mereka tidak punya teman, syukurlah kalau aku salah” Oyakatasama membuka pembicaraan makan malam hari itu. Oyakatasama ternyata mempersiapkan perayaan ulang tahun ku (dan Sasuke) dengan memasak beberapa masakan untuk makan malam. Sebenarnya Kasuga berkata ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, entah tentang apa, aku tidak pernah merasa aku atau Sasuke memiliki sesuatu yang membuat Kasuga harus meluangkan waktu nya untuk berkunjung ke kediaman kami. Tetapi Oyakatasama meminta untuk kami makan malam sebentar sebelum membicarakan hal yang nampaknya akan menjadi pembicaraan serius ini. Sesekali aku menatap Kasuga yang nampak tidak nyaman, seperti banyak sekali hal yang ia pikirkan. Dan ku rasa, baru kali ini aku melihat wajah Kasuga dari jarak sedekat ini, ia duduk di samping ku. Aku mengerti kenapa Sasuke jatuh cinta pada gadis ini, meski aku tidak pernah tau bagaimana sebenarnya hubungan keduanya.
“A! Kasuga-kun, tidak usah dibantu, kau kan tamu, biar Yukimura dan aku yang membereskan ini semua” larang Oyakatasama ketika melihat Kasuga mengangkat piring nya setelah makan dan membawa nya ke tempat cuci piring. Aku mencoba mengambil piring dari tangan Kasuga, tetapi Kasuga menolak dan bersikeras untuk  membantu mencuci piring, dan akhirnya Oyakatasama membiarkannya membantu.
Setelah semuanya beres, kami bertiga kembali berkumpul untuk mendengarkan apa yang membawa Kasuga ke kediaman kami, berkumpul di samping altar Sasuke, karena Kasuga bilang ia ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan saudara kembar ku itu. Aku melempar pandangan ku ke sekeliling ruangan, tapi aku tak menemui sosok Sasuke.
“Aku… sedang mengandung anak Sasuke”
Singkat, padat dan sangat jelas. Kata-kata itu membuat ku dan Oyakatasama tercengang. Jantung ku berdetak sangat cepat! Seolah mengetahui alasan kenapa Sasuke menjadi jiwa yang tidak tenang setelah ia mati! Aku menatap ke arah Oyakatasama yang nampak sangat terkejut dan memegangi kepalanya, pengakuan ini membuatnya banyak berpikir.
“Sasuke..!” Oyakatasama mendongakkan kepalanya, menelan ludahnya dan menekan pangkal hidungnya. Kebiasaan Oyakatasama sejak dulu untuk menahan agar air matanya tidak keluar saat ia sedih tapi tidak ingin kelihatan oleh ku dan Sasuke. Kemudian ia beranjak dari tempat duduk nya, perlahan meraih pundak Kasuga dan membawa nya dalam pelukan hangat Oyakatasama. Sesaat kemudian aku melihat linangan air mata di pipi Kasuga dalam pelukan Oyakatasama. Aku mengerti kesedihan itu, kesedihan Oyakatasama yang merasa bersalah kepada Kasuga karena salah satu anak nya telah meninggalkan kekasih nya yang tengah mengandung cucu nya kelak, juga kesedihan Kasuga. Aku tau Sasuke menyukai Kasuga, tetapi aku tak pernah melihat Kasuga membalas etikat baik saudara kembar ku itu hingga aku tidak pernah menyangka hubungan mereka ternyata sudah sejauh ini, tetapi air mata Kasuga cukup membuat dada ku sesak dan yakin bahwa perasaannya yang begitu mencintai Sasuke hanya dia yang tahu dan orang lain tidak, bahkan saudara kembar Sasuke sendiri, aku, tidak tau.
Stasiun. Oyakatasama memintaku untuk mengantar Kasuga pulang. Sepanjang jalan begitu sepi, tidak ada pembicaraan baik dari ku, maupun Kasuga. Meskipun satu sekolah, kami beda kelas dan aku tidak begitu kenal dengan gadis yang sering jadi perhatian siswa laki-laki ini. Beruntung Sasuke mendapatkan nya.
“Apa kau akan datang ke sekolah besok?” tanya ku saat Kasuga telah melewati pintu tiket stasiun, aku dan Kasuga terpisah oleh mesin tiket masuk.
“Ku rasa aku tidak akan datang ke sekolah lagi” kata Kasuga. Ia kemudian meletakkan tangan di atas perutnya, sedikit mengelus dan tersenyum. Tapi aku tidak tau apa arti senyuman itu, entah senyum bahagia atau senyum kesedihan. Kasuga menundukkan badannya sedikit, pamit, sebelum pergi melangkah lebih jauh dan memasuki keretanya dan membawa nya pulang ke rumah.
Ku hentikan langkah ku ketika melihat seorang remaja berambut kecoklatan gondrong sebahu terlihat tengah bersandar di tiang listrik lampu jalan. Sasuke, dia baru muncul setelah semua kejadian tadi sore. Atau selama ini ia ada, hanya aku saja yang baru bisa melihatnya lagi.
“Apa kau telah mengetahui ini semua?” tanya ku. Malam itu sepi, tidak perlu khawatir orang lain memergoki ku bicara sendirian. “Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?” “Sejak kapan kau dengan Kasuga?” “Kenapa kau melakukan itu kepada Kasuga? Kenapa kau meninggalkannya?!”
Kalap. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, tapi Sasuke tak kunjung bicara pada ku. Aku berhenti bertanya karena tiba-tiba seorang polisi dengan sepedanya, lewat dan berhenti tak jauh dari tempat ku berdiri. “Kau baik-baik saja?” tanya polisi itu sambil menunjukku dengan tongkat polisinya. Dan kemudian Sasuke hilang dari pandangan ku.
“Sasuke ! !”
9 bulan berlalu sejak saat itu. Sasuke masih sering menampakkan jiwa nya, di kelas di bangkunya, di jendela kamar kami, duduk memandang ke arah jalan seperti yang biasa ia lakukan semasa hidup, bahkan di samping Kasuga saat ia berkunjung ke rumah. Iya, seperti janjinya, Kasuga sesekali datang berkunjung ke rumah kami dan Oyakatasama begitu senang akan kehadirannya. Oyakatasama, ia sangat menyayangi Kasuga dan memperhatikan kehamilan Ibu dari anak Sasuke itu. Sesekali Oyakatasama mengantarkan Kasuga cek kehamilan dan lain sebagainya, Kasuga kini benar-benar menjadi bagian dari keluarga kami. Dan aku, aku masih tidak mengerti apa yang harus aku lakukan.
Di tengah lamunan ku, di tengah jam pelajaran, ponsel ku bergetar. “Oyakatasama?” kemudian aku menerima telpon itu dalam tundukkan kepala ku. Sesaat kemudian aku terperangah, mengambil tas ku buru-buru keluar dari kelas, tidak peduli teriakan guru yang sedang mengajar di depan kelas, aku berlari sekuat tenaga, menuju rumah sakit universitas yang tidak begitu jauh dari sekolah.
“Oya..!” lari ku terhenti di salah satu ruangan di rumah sakit. Aku melihat sosok Oyakatasama yang sedang menggendong bayi mungil dengan selimut  putih yang membalut tubuh kecil manusia yang baru lahir itu. Perlahan aku mendekati Oyakatasama yang kemudian menyerahkan anak Kasuga dan Sasuke itu kepada ku. “Sasuke..” bisik ku. Aku kemudian menatap ke arah Kasuga yang masih terlihat kepayahan, dan menatap ku dengan air mata dan sesenggukkan. Aku yakin kali ini air matanya adalah air mata kebahagiaan. “Sasuke !” teriak ku. Oyakatasama, begitupula Kasuga nampak terkejut saat mendengar teriakkan ku. Aku membuangan pandangan ku ke sekeliling ruangan, dan menemukan sosok Sasuke di depan pintu, menyenderkan badannya dengan melipat tangan di dada. Sasuke nampak tersenyum lebar, menghela nafas kemudian mendekati ku yang sedang menggendong bayi kecil nya. Sasuke kemudian nampak mengelus kepala bayi nya, meski tak tersentuh karena mereka berada di dunia yang berbeda.
“Aku serahkan semuanya padamu, Yukimura” Mendengar suara Sasuke, akhirnya setelah selama ini Sasuke hanya berbentuk penampakkan jiwa tanpa raga “Kau juga, menyukai Kasuga kan?” tanpa sadar aku meneteskan air mata ku. Sasuke kemudian membalikkan badannya.
“Sasuke…” panggil ku. Sasuke melangkah keluar tanpa menoleh, hanya mengangkat tangan kanan nya dan sedikit melambaikan tangan dan perlahan menghilang. “Sasuke ! !” aku tak dapat bergerak melainkan menangis dan membiarkan air mata ku jatuh di pipi anak nya bersama Kasuga, Kasuga yang aku sukai selama ini.
Oyakatasama pernah berkata, mungkin aku adalah orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena bahkan saat aku lahir pun, aku tidak sendirian. Namaku Yukimura dan aku memiliki saudara kembar, Sasuke namanya. Begitu juga Sasuke, ia juga menjadi orang yang tidak pernah kesepian di dunia ini, karena saat ia lahir, ia tidak sendirian, ia bersama ku, bahkan sekarang ini setelah ia pergi, ada Oyakatasama, dan juga Kasuga, yang selalu menyayanginya.
“Sasuke !” Panggil Kasuga.
“Iyaaa”
Satu lagi orang yang selalu menyayangi nya. Sasuke, anak nya bersama Kasuga yang diberi nama sama dengannya, karena bagi kami, keberadaannya membuat seolah-olah Sasuke terlahir kembali ke dunia ini.




The End

Senin, 02 Januari 2012

nande boku dake ? (fanfiction)

Title : nande boku dake ?

Author : Meg Kecil

Genre : friendship, relationship, curious spirit (but not horror)

Starring : 

ViViD

Shin

Ryoga

Ko-Ki 

Reno

IV

Alice Nine Shou as Shou-senpai

 Alice Nine Tora as Tora-senpai

and
Exist Trace Miko as Miko-sensei






Nande Boku Dake ? ?



Lapangan basket aula SMU Peace and Smile. Riuh ramai pertandingan antara kelas 2-B VS 3-D yang terkenal jago-jago basket kayak Shou-senpai sama Tora-senpai. Sementara di kelas 2-B ada Shin yang populer sebagai ace waktu kelas 1 dulu dan sekarang sudah jadi kapten basket SMU Peace and Smile menggantikan Shou-senpai yang sudah lengser jabatan karena anak-anak kelas 3 sudah tidak diperbolehkan aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Kecuali hari ini, mereka bisa main atas nama kelas, bukan klub, untuk merayakan acara pekan olahraga sekolah.
“Shin!!” teriak Ryoga menyemangati teman sekelasnya itu dari bangku penonton.
“Ayo ayo Shin!!” teriak Ko-Ki tidak kalah sampai ia harus berdiri saking semangatnya melihat pertandingan yang menegangkan itu. Ryoga terpaksa menarik Ko-Ki duduk karena murid yang duduk di belakangnya terdengar misuh-misuh gara-gara ketutupan Ko-Ki. Ko-Ki nampak kesal gara-gara hal itu, tapi pelototan Ryoga membuatnya patuh.
“3 menit lagi, angka tipis” kata Ryoga sambil melirik ke papan score.
“Sial! ini menegangkan!!” kata Ko-Ki sambil menggosok-gosok kedua tangannya.
“Yang tanding kelas kami juga” kata Ryoga. Ryoga dan Shin memang satu kelas di 2-B, sedangkan Ko-Ki anak kelas 2-A.
“Iya, tapi Shin kan  teman gue juga? Wajar dong” kata Ko-Ki sewot.
“Apaan kelas 2-A baru penyisihan sudah K.O” ejek Ryoga sambil ketawa.
“Yang penting cerdas cermat kami juara 1” bangga Ko-Ki yang mewakili lomba satu itu. Ryoga diam. Anak kelas 2-A memang wadahnya juara-juara akademik. “Who!! Sial!!” teriak Ko-ki kemudian saat Shin nge-lay up di dalam garis dua angka, tapi berhasil di halau oleh Tora-senpai yang berbadan tinggi dan akhirnya Shin gagal  mencetak skor. Bola jingga itu di tangan Shou-senpai sekarang.
“Tora memang jago di pertahanan” kata Ryoga sambil melipat tangan di dada dan matanya tak lepas dari lapangan. Tiba-tiba Shou-senpai mengoper bola, sebenarnya ditujukan ke arah pemain lain, tapi ada Shin di sana yang mencoba menangkap operan bola namun dalam waktu yang tidak tepat, lemparan bola dari Shou-senpai yang cukup kuat malah membentur kepalanya sampai Shin limbung dan jatuh di tengah lapangan.
“Shin!!” teriak Ryoga dan Ko-Ki bersamaan, kali ini bukan hanya mereka yang berdiri melihat kejadian itu, tetapi hampir semua orang yang menonton pertandingan yang hampir selesai itu berteriak dengan nada prihatin. Semua pemain berkumpul di lapangan dan memeriksa keadaan Shin, tak lama kemudian tim kesehatan masuk dan membawa Shin ke pinggir lapangan. Ryoga menepuk pundak Ko-Ki. Ko-Ki yang mengerti langsung beranjak dari bangku penonton dan bergegas menghampiri teman mereka yang langsung di bawa ke ruang kesehatan itu.
“Ugh” Shin mulai tersadar saat hari telah sore. Ko-Ki yang terkantuk-kantuk langsung membangunkan Ryoga yang telah tertidur pulas di tempat tidur sebelah setelah menyadari Shin siuman dari pingsan nya. Ryoga beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Shin, sementara Ko-Ki mencari Miko-sensei.
“Baik-baik aja lu?” tanya Ryoga.
“Astaga! Sore?! Gimana pertandingan?” tanya Shin. Ryoga menyipitkan matanya yang sudah sipit.
“2-B menang kok meski tanpa lu, sekarang, lu gimana? Lu pingsan lama banget” kata Ryoga dengan nada khawatir.
“Syukur deh kalo menang” kata Shin lega.
“Shin! Elu ih gue tanyain! Gue sama Ko-ki khawatir tau. Lu malah mikirin pertandingan” kata Ryoga sewot.
“Iya! Gue nggak apa-apa, santai aja. Kepentok sedikit juga” kata Shin sambil mengelus kepalanya. “Wah, gue masih seragaman” katanya baru menyadari kalau masih pakai seragam basket nya. Ryoga mendengus, ni anak satu. batin nya. Tak lama Ko-Ki datang bersama Miko-sensei. Setelah diperiksa sebentar, Shin sudah diperbolehkan pulang. Saat keluar dari ruang kesehatan, Shin, Ryoga dan Ko-ki berpapasan dengan Shou-senpai dan Tora-senpai.
“Wah, baru mau aku jenguk” kata Shou sambil menurunkan tas yang dari tadi di bawa dengan tangannya di pundak. “Kau tidak apa-apa? Aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku benar-benar tidak sengaja” kata Shou-senpai sambil menundukkan badannya sedikit
“Ah! Senpai?” kaget Shin. “Nggak apa-apa, Gue.. ah! Saya nggak apa-apa! Kebetulan sejak pagi saya makan sedikit, mungkin karena kaget dan faktor itu makanya jadi pingsan haha memalukan” kata Shin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ryoga dan Ko-Ki saling tatap. Mereka berdua tau, siapa diantara mereka yang makan paling banyak tadi pagi, Shin. Anak satu itu memang pernah bilang kalau dia sangat menghormati Shou-senpai, mungkin ia tidak ingin membuat Shou-senpai kecewa.
“Syukur lah kalau tidak apa-apa. Aku duluan ya” kata Shou-senpai pamit. Tora-senpai juga mengangkat tangannya dan mereka berdua pergi.
“Kita juga harus pulang” kata Ko-Ki kemudian, diiyakan Ryoga.
“Sebentar, tas gue masih di aula” kata Shin.
“Ko-Ki, bukannya gue tadi suruh lu ambilin tas Shin di aula?!” tanya Ryoga.
“Eh?! Masa?” kata Ko-Ki di sambut jitakan oleh Ryoga.
“Nggak apa-apa, gue bisa ambil sendiri. Kalian tunggu di gerbang deh” kata Shin sambil berlalu. Ryoga dan Ko-Ki menyetujui perjanjian itu. Mereka kemudian menuju gerbang sekolah dan menunggu Shin di sana sementara Shin mengambil tas nya yang tertinggal di aula SMU Peace and Smile.
“Lama juga gue pingsan nya” gerutu Shin saat masuk ke dalam ruang ganti yang tempatnya tidak jauh dari aula. Ia kemudian membuka salah satu loker ruang ganti itu. Shin langsung mengambil seragam yang tergantung rapi di dalam loker nya, melipatnya sebentar dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Kemudian buru-buru keluar karena hari sudah sangat sore dan Ryoga dan Ko-Ki pasti sedang sudah menunggu. Namun langkah Shin terhenti ketika ia mendengar seperti ada yang main basket di aula, karena penasaran Shin menuju aula. Seorang cowok dengan tinggi yang nampak seperti Ko-Ki terlihat berdiri di bawah ring dan memantul-mantulkan bola basket jingga itu ke lantai, suaranya menggema ke seluruh aula yang sudah sepi. “Anak kelas satu?” pikir Shin. Kemudian ia teringat Ryoga dan Ko-Ki. “Ah, nanti pulang kesorean” buru-buru Shin meninggalkan aula indoor. Sementara anak misterius itu membiarkan bola basket bergulis di lantai, ia menoleh ke arah Shin yang sudah jauh. Dan di luar aula, Reno, cowok yang populer di kalangan cewek Peace and Smile karena dianggap tampan dan misterius, juga cowok yang ‘populer’ di kalangan cowok Peace and Smile karena dianggap cowok aneh, gak jelas dan saingan buat ngerebut perhatian cewek-cewek, mengamati Shin sambil melipat kedua tangannya di dada. Lalu ia melirik ke dalam aula, bergidik, lalu lari.
***
“A.. apa?” tanya Shin sedikit panik ketika Reno tiba-tiba nimbrung saat ia dan dua sahabatnya yang lagi santai di area atap. Sebagai cowok yang paling enggak pengen diharapkan kehadirannya pada saat kumpul-kumpul bareng temen, Reno ditatap aneh oleh ketiga sahabat itu, apalagi kedatangan nya yang begitu tiba-tiba.
“Gue, pengen ngomong, ama elu” kata Reno sambil nunjuk Shin dengan pasti.
“Tentang… apa?” tanya Shin, ia gak pernah mikir sebelumnya kalo ia bakal berurusan sama cowok aneh satu ini. Reno kemudian merangkul pundak Shin yang otomatis kaget! Begitu juga dengan Ko-Ki dan Ryoga yang kemudian saling sikut-sikutan, dorong-dorongan dan jitak-jitakan.
“Tentang…” Reno kemudian berbisik. “Anak di aula ” bisik Reno. Shin nampak terkejut.
 “Apa salah nya sama tu anak?” Shin balik tanya dengan berbisik.
“Salah!” kata Reno sambil beranjak dan kembali menunjuk Shin dengan pasti.
“Apa?!” tanya Ryoga dan Ko-Ki bertanya-tanya. Reno melirik ke dua sahabat Shin itu.
“Ehem, sebenarnya gue pengen membicarakan ini dengan Shin aja” kata Reno sok-sok megang jidat.
“Kurang asem” bisik Ryoga. “Ayo King..” kata Ryoga mengajak Ko-Ki. “Shin! Abis ini cerita ya” kata ryoga sambil beranjak dari tempat nya. Ko-Ki mengikuti langkah Ryoga. Reno kemudian duduk menempati bangku yang tadi di duduki Ko-Ki.
“Lalu?” tanya Shin.
“Lu bisa liat anak itu kan?” tanya Reno, wajah nya agak serius dari yang sebelumnya.
“Bisa? Bisa lah! Anak kelas satu kan? Soalnya aku jarang liat dia” kata Shin menjawab serius.
“Jarang liat, karena dia anak kelas satu, atau karena kita emang nggak pernah tau siapa dia?” tanya Reno. Ia kemudian menarik bangku nya semakin dekat ke Shin.
“Maksud lu?” tanya Shin, tiba-tiba ia merinding. “Lu jangan-jangan… Jangan nakutin gue deh” kata Shin kemudian. Shin teringat salah satu gossip mengenai Reno, kalau cowok satu ini bisa melihat hal-hal gaib! Reno mengangkat kedua bahu nya.
“Gue sih pernah denger, kalo dulu, ada anak basket yang meninggal sebelum turnamen antar kelas kayak yang kemaren. Gue sih nggak bisa liat, tapi udah lama gue bisa ngerasain kalo di aula, emang ada aura-aura aneh Shin. Sekarang, gue cuma mau bilang ke elu, hati-hati ya, soalnya cuma elu yang bisa liat dia, hiii” kata Reno bergidik sendiri lalu beranjak dari bangku nya dan kabur.
“Woy! Reno! Woy! Gila lu nakutin gue aja kan?! Woy!” protes Shin yang tiba-tiba meninggalkan dirinya sendirian di atap.
“Kalau ada apa-apa, panggil gue!!” teriak Reno sambil berlalu.
“Kurang asem tu bocah” gerutu Shin. Shin kembali merinding. Ia lalu memutuskan untuk keluar dari area atap.
***
“Nggak, gue mungkin nggak akan cerita ini ke Ryoga atau Ko-Ki” pikir Shin di ruang loker aula setelah dia latihan basket. Shin masih kepikiran soal percakapan siang tadi sama Reno, “Sial! Sejak kapan sih gue…” Shin tiba-tiba ingat tentang kecelakaan pas pertandingan beberapa waktu yang lalu. Shin lalu memegangi kepalanya. “Apa cuma gara-gara itu lalu gue bisa liat?” gerutu Shin lagi.
“Shin, gue duluan” kata salah satu anggota basket setelah ia menutup loker nya.
“Oke” kata Shin setelah tersadar dari lamunannya. Sekarang, dia sendirian di ruang loker. “Kurang asem!” kata Shin yang mulai mikir yang enggak-enggak. Ia bergegas merapikan tas dan seragam sekolahnya. Lalu menutup lokernya cepat-cepat. Saat hendak keluar dari ruangan…
“Whoaaaa!!!” kaget Shin. Begitu pula cowok dengan kaos putih dan celana pendek dengan bola basket di tangannya, ikut kaget dan teriak saat ia hampir bertabrakan dengan Shin. “Ah, sori, kaget gue” kata Shin.
“Haha, iya, nggak apa-apa, sori kalo ngagetin” kata cowok dengan suara yang agak cempreng dan tinggi badan yang kurang lebih  sama dengan Ko-Ki itu. Cowok itu kemudian menuju lokernya. Shin melihatnya sedang beberes dengan santainya. Shin menelan ludah, ia melihat ke kaki anak itu.
“Nyentuh tanah, badannya juga nggak transparan” pikir Shin agak lega. “Sori, tapi gue gak pernah liat lu sebelumnya, lu anak basket?” tanya Shin memberanikan diri. Jantungnya berdegup kencang, takut kalo jawabannya aneh-aneh.
“Hahaha, mana ada anak basket badannya pendek kayak gue” kata cowok itu. Shin merasa miris mendengar kata-katanya tadi, sebenarnya tinggi badan bukan masalah di basket, pikirnya. “Tapi gue seneng basket, makanya gue sering ke sini, tapi pas kalian dah kelar latihan” kata cowok itu.
“Sayang banget, basket kan permainan tim, kalo lu main sendirian percuma. Kalo lu mau gabung sama tim, bisa aja, gue kapten dan gue rasa gue bisa urus semuanya dan rekomendasiin lu biar bisa masuk tim” kata Shin yang mulai menghapus segala pikiran negatifnya terhadap cowok ini sebelumnya.
“Haha, thanks, tapi gue nggak bisa” kata cowok itu sambil berlalu membawa bola basket jingganya, mau memulai latihan basket private nya. “Oh ya, nama gue Iv anak kelas 1-D, lu Kapten Shin kan?” tanya Iv kemudian.
“Iya” kata Shin sambil membenarkan posisi tasnya.
“Salam kenal” kata Iv sambil tersenyum dan mendribble basketnya keluar dari ruang loker dan masuk ke aula. Shin memperhatikan permainan Iv sejenak, tidak buruk. Ia memiliki gerakan yang bagus. Shin kemudian melirik ke jam dinding aula.
“Aish, telat gue” kata Shin yang baru ingat ada janji makan di McD bareng Ko-Ki dan Ryoga. Ia kemudian bergegas meninggalkan aula.
***
“Kurang asem Reno, ternyata emang nakut-nakutin gue aja. Terbukti kan ga ada hantu di aula. Iv, anak kelas 1-D” batin Shin sambil memasukkan sepatunya ke dalam loker lalu menggantinya dengan sandal sekolah.
“Bro!” Ryoga menepuk bahu Shin sambil melepas kedua sepatunya.
“Kaget gue” kata Shin sambil memusut dada.
“Kenapa? Akhir-akhir ni lu jantungan?” tanya Ko-Ki yang  lokernya diseberang.
“Jangan-jangan?!!” tanya Ryoga panik.
“Santai bro, gue gak apa-apa!” kata Shin sambil nepuk pundak Ryoga.
“Pagi Shin” cengengesan Reno menyapa Shin saat Shin berbalik. Shin menghela nafas.
“Oiya, lu belum nyeritain ke kita tentang pembicaraan kalian kemaren” kata Ko-Ki sambil mendekati mereka bertiga.
“Lu mau nyeritain ke mereka?!” kaget Reno.
“Iya. Jadi, Si Reno ini bilang kalau di aula basket ada hantu kaka kelas, dan dia pikir, gue, bisa lihat hantu itu. Dan ternyata? Omong kosong. Gue bisa pastiin, yang gue liat kemaren anak kelas 1-D dan namanya Iv” cerita Shin. Reno terdiam.
“Emang nggak bisa dipercaya” kata Ryoga sambil berlalu, diikuti oleh Ko-Ki.
“Lu yakin?” tanya Reno.
“Yakin” kata Shin dengan wajah serius. Reno menundukkan kepalanya, lalu terlihat pasrah.
“Yah, baguslah kalo selama ini gue salah” kata Reno. Shin kemudian berlalu, tapi Reno masih merasa ada sesuatu sama Shin.
***
“Guys! Sori, kalian pulang duluan ya” kata Shin saat bel pulang berbunyi.
“Kenapa?” tanya Ko-Ki yang sedari tadi berdiri di depan pintu kelas 2-B, menunggu teman-teman nya keluar kelas.
“Mo latihan basket, biasa…” kata Shin sambil mengambil tas nya.
“Bukannya hari ini ga ada jadwal latihan?” tanya Ryoga yang masih beres-beres, ia menoleh ke arah Ko-Ki yang kemudian mengangkat bahu.
“Em.. Latihan sendiri sih” Kata Shin.
“Ya udah” kata Ryoga dan Ko-Ki bersamaan. Shin kemudian berlari kecil keluar dari kelas meninggalkan Ko-Ki dan Ryoga. Ko-Ki kemudian masuk ke kelas dan mendekati Ryoga.
“Gue rasa dia latihan sama anak yang namanya Iv itu” kata Ko-Ki.
“Iya, soalnya dia tadi juga bilang kalo Iv sering latihan sendirian jam segini kan?” tanya Ryoga.
“Katanya mau di rekrut juga, Shin kan kapten” kata Ko-Ki. Ryoga manggut mengiyakan.
“Ke McD?” ajak Ryoga.
“Sip!” Dan dua sekawan itu pun cabut.
Sementara itu, Reno keluar dari toilet dengan wajah agak pucat sambil memegangi perutnya.
“Makan apa gue?” gerutunya dengan muka masam. Reno kemudian berjalan lunglai menuju ruang kesehatan. “Miko-sensei?” sapa Reno saat melihat guru kesehatan itu. Miko-sensei nampak meletakkan kembali sebuah figura foto ke tempatnya.
“Reno? Ada apa?” tanya Miko-sensei lembut.
“Anu bu, minta obat sakit perut” Kata Reno malu-malu. Miko-sensei beranjak dari meja kerja nya.
“Kenapa? Salah makan?” tanya Miko-sensei sambil membuka lemari obat sementara Reno duduk di tempat tidur tepat di depan meja kerja Miko-sensei, sebenarnya ia penasaran dengan figura foto yang barusan dipegang Miko-sensei. Dalam foto itu, nampak Miko-sensei bersama anak laki-laki dengan seragam yang sama dengan seragam SMU Peace and Smile. “Ini” kata Miko-sensei sambil menyerahkan obat yang diminta Reno.
“Itu siapa sensei?” tunjuk Reno sambil mengambil obat yang diserahkan Miko-sensei kepadanya.
“Kakak kelas kalian, dia adik ku” kata Miko-sensei. “Bisa dibilang begitu sih” katanya sambil tersenyum.
“Maksudnya?” tanya Reno sambil minum obat.
“Entah sejak kapan kami jadi akrab, dia sudah ku anggap adik ku sendiri” jelas Miko-sensei. Reno mengangguk mengerti. “Sejak anak kelas 2-B itu ke ruang kesehatan beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba aku merindukannya” Kata Sensei.
“Shin?? Apa hubungannya?” tanya Reno yang jadi antusias.
“Iya, dia juga pebasket. Tapi tidak pede dengan tinggi badannya. Dia sering berkeluh kesah, katanya dia selalu dihina temannya. Tapi ku bilang kalau dia memang memiliki kemampuan tidak usah bersedih. Lucu. Karena Shin juga pebasket, aku jadi teringat dengannya” cerita Miko-sensei.
“Kakak kelas ya?” tanya Reno nampak berpikir.
“Iya, kalian tidak kenal sih, namanya Iv” kata Miko-sensei. Reno nampak terkejut mendengar nama itu. “Tapi dia meninggal beberapa tahun yang lalu, sebelum pertandingan pertamanya” kata Miko-sensei dengan wajah sedih.
“Shin dalam bahaya!” kata Reno.
***
“Kok bisa ada di tempat Shin?!!!” marah Ko-Ki sambil tersu berlari di belakang Ryoga.
“Gue tadi nitip ke dia pas ke toilet!!!” kata Ryoga panik sambil terus berlari. Pas barusan masuk McD, tiba-tiba Ryoga sadar kalau dia tidak membawa dompet dan dompetnya ada di tempat Shin. Kebetulan uang Ko-Ki pas-pasan dan nggak bisa buat makan berdua. Alhasil mereka lari kembali ke sekolah.
***
Aula basket.
“Tu kan.. Menurut gue, lu mending masuk tim deh” Shin menyeka keringatnya, habis 1 on 1 sama Iv tanding basket. Iv cengengesan sambil mendribble bola.
“Satu kali lagi, kalo lu bisa rebut bola ini dari gue dan cetak angka, gue bakal masuk tim. Tapi kalo nggak, gue ada permintaan dari lu” kata Iv.
“Permintaan?” tanya Shin. Belum sempat dijawab, Iv sudah mendribble bolanya menuju ring Shin, tidak ingin kalah, Shin mengejar Iv, dan berhasil merebut bola! Dengan percaya diri Shin membawa bola menuju ring Iv, Shin lay up, tapi Iv berhasil menghalau bola. Bola di Iv, Shin mengejar Iv sampai Iv berhenti di tengah lapangan dan melempar bola dengan berani dari jarak itu dan…. bola masuk ke keranjang!! Shin menganga seakan tidak percaya. Iv tersenyum.
“Sekarang, permintaan gue…” Iv mengulurkan tangannya. Shin tanpa pikir panjang menyambut uluran tangan Iv dan mereka bersalaman. “Gue… Pengen ketemu Miko” kata Iv.
“Hah?!!” bingung Shin.
***
“Shin!!” teriak Ryoga sampai di aula saat melihat Shin berdiri sendirian di tengah lapangan. “Shin dompet gue…” Ryoga nampak terkejut saat melihat Shin yang nampak diam.
“Shin?” tanya Ko-ki. Shin menoleh, tapi tatapan matanya beda. Tanpa menghiraukan Ryoga dan Ko-Ki, Shin berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Iv!!!!!” teriakkan Reno menggema di aula basket. Nampak terengah, Reno mengejutkan Ryoga, Ko-Ki dan ‘Shin’. Reno mendekati ‘Shin’ dan memegang pundaknya. Ryoga dan Ko-Ki berlari kecil mendekati mereka berdua.
“Ada apa ini?” panik Ryoga.
“Lu Iv kan?! Jawab gue!!” teriak Reno. Ryoga dan Ko-Ki terkejut.
“Kalo iya, kenapa?” jawab ‘Shin’ dengan suara yang berbeda.
“Keluar lu dari badan Shin atau gue usir lu dengan cara kasar!!” kata Reno sambil mengeluarkan kitab kecil dari saku celananya. Iv yang telah merasuki badannya Shin menepis tangan reno sampai kitab kecil itu lepas dari tangannya.
“Berisik lu!” marah Iv. Hampir ia keluar aula, sampai akhirnya Miko-sensei muncul dan nampak terengah.
“Iv?” tanya Miko-sensei.
“Miko?” tanya Iv. Miko kemudian berlari dan memeluk Shin yang telah dirasuki Iv. Reno, Ryoga dan Ko-Ki kemudian mendekati mereka berdua.
“Ternyata selama ini kau di sini?” tanya Miko-sensei terharu.
“Miko, sekarang aku adalah pemain basket yang hebat” kata Iv.
“Iya” kata Miko-sensei. “Kau memang pebasket hebat, sejak dulu” lanjutnya.
“Tapi aku tidak bisa ikut pertandingan!” kesal Iv, kemudian meneteskan air mata. “Padahal aku sudah berjanji” sambung Iv.
“Tidak apa-apa” kata Miko-sensei.
“Maafkan aku ya?” kata Iv
“Kamu nggak salah” kata Miko-sensei.
“Aku senang ketemu Miko” kata Iv. Miko-sensei nampak terkejut, Iv kemudian melepas pelukannya. “Katakan pada Shin, terima kasih banyak” kata Iv pada Reno. Reno mengiyakan dengan ragu.
“Iv?” tanya Miko-sensei. ‘Shin’ nampak tersenyum.
“Terima kasih” kata Iv kemudian. Tak lama kemudian, Shin nampak tersadar.
“Shin?” tanya Reno memastikan.
“Dompet lu Ga” kata Shin yang telah kembali saat melihat Ryoga, saat berbalik, Shin tumbang, namun sempat ditangkap oleh Reno.
“Shin!!” panik Ryoga dan Ko-Ki.
“Nggak apa-apa, dia Cuma capek” kata Reno. Reno kemudian menerawang ke seluruh aula, melihat hal itu Ryoga dan Ko-Ki ikut-ikutan memandangi seluruh sudut aula.
“Iv… sudah pergi” kata Reno. Miko-sensei kemudian menyeka air matanya.
“Dia sudah benar-benar pergi” kata Miko-sensei
***
“Jadi, ternyata Iv memang kakak kelas kita, beberapa tahun di atas kita. Dia entah sejak kapan jadi akrab dengan Miko-sensei. Meskipun Iv memiliki perasaan yang lebih pada Miko-sensei, Miko-sensei hanya menganggap Iv sebagai adik laki-lakinya saja. Bagi Iv, Miko-sensei adalah satu-satunya orang yang mempercayai kemampuan basketnya sementara orang lain tidak dan bahkan banyak yang menghinanya karena badannya yang tidak terlalu tinggi sebagai seorang pemain basket. Karena dukungan Miko-sensei, akhirnya Iv masuk tim, tapi sebelum pertandingan pertamanya, Iv malah mengalami kecelakaan dan tewas. Padahal Iv telah berjanji kalau dia akan memenangkan pertandingan itu demi Miko-sensei” Jelas Reno panjang lebar. Shin, Ryoga dan Ko-Ki terdiam.
“Terlepas dari dia adalah hantu, Iv benar-benar jago basket” kata Shin kemudian. Yang lain mengangguk.
“Ternyata Miko-sensei suka brondong ya?” kata RYoga. Satu geplakan keras dari Ko-Ki.
“Ngomong-ngomong, Reno, lu beneran bisa ngusir hantu?” tanya Ko-Ki teringat dengan kitab kecil di aula waktu itu.
“Enggak” kata Reno cengengesan. “Soal kitab kemaren gue nemu di toko buku-buku bekas. Hahaha kenapa? Kagum? Kagum ya?” tanya Reno cengengesan.  Shin, Ryoga dan Ko-Ki langsung bubar. “Oy! Jangan tinggalin gue!” kejar Reno.


-end-

thanks for reading

comment open.. ^  ^)/

Rabu, 28 Desember 2011

entry Dec28 - such a weird dream -


sebelumnya, ini bukan fanfic, tapi ini adalah mimpi ku malam tadi. sesaat setelah aku bangun dari tidur, aku bergegas menulis ini sebelum aku lupa. sebenarnya aku nggak tau apa baik menceritakan mimpi seperti ini, tapi ini mimpi terlalu seru untuk diabaikan. meskipun buka fanfic, aku akan memberikan label pada postingan ini adalah 'fanfiction' karena ini memang terbaca seperti fanfic (LoL)

mimpi malam tadi, mungkin aku berperan sebagai kameramen acara Alice9Channel (LoL) dan guest hari itu adalah Nao-san dan Saga, tentu saja dengan Tora sebagai host nya.



Scene mimpi diawali dengan Nao-san, Saga dan Tora yang minum-minum di sebuah kedai, kemudian tiba-tiba Nao-san keluar dari kedai dalam keadaan mabuk berat dan lari sepanjang jalan raya yang lumayan sepi. Tora dan Saga yang juga dalam keadaan mabuk disuruh staff untuk mengejar Nao-san. Dan dalam keadaan mabuk Tora dan Saga akhirnya mengejar Nao-san, tapi karena mabuk, lari mereka jadi pelan dan malah nggak bisa ngejar Nao-san. Sepanjang jalan Tora dan Saga memanggil-manggil Nao-san supaya berhenti berlari. Anehnya dalam mimpi ku itu Tora dan Saga memanggil Nao-san dengan nama “Kipli” ?!!! (LOL) dan pada saat itu, aku yang ada di dekat mereka berdua, menemani mereka lari mengejar Nao-san, karena aku adalah kameramen, berpikir, ternyata selama ini nama asli Nao-san adalah “Zulkipli” ! ! ! (LOL sangat)

Tidak lama kemudian Nao-san terkejar, dan akhirnya Tora, Saga dan Nao-san malah jalan-jalan malam bertiga, berempat sama aku (sekali lagi aku kameramen dan aku yang punya mimpi di sini hahaha). Saat berjalan bertiga, Tora dan Saga melihat seorang laki-laki berjas (mungkin salaryman yang pulang larut) yang berpapasan dengan mereka dan nampak mabuk juga. Lalu kata Saga : “Judi! tweeew” (menirukan bang Haji Rhoma). Mungkin pada saat itu Saga pikir orang itu nampak seperti orang yang baru pulang berjudi. Kemudian, Tora juga mengikuti Saga “Judi! Tzzzweeeewww” kata Tora yang notabene nya adalah gitaris (ngakak).

Tiba-tiba aku menyadari, Tora sedari tadi sepanjang jalan mengepalkan sebelah tangannya. “Sepertinya dia kedinginan” kata ku, Tak lama kemudian, Tora mendatangi Nao-san lalu menggenggam tangannya, dan kemudian mereka berdua berjalan bergandengan tangan!!! “Aku nggak tau dia adalah tipe orang yang suka bergandengan tangan” kata Saga sambil nunjuk Tora, sementara mereka berdua (Tora dan Nao-san) kelihatan bahagia(?). “Ne, Nao-san, tau nggak, sekarang aku membayangkan kalau aku sedang dalam posisi Nao-san dan bergandengan tangan dengan Tora, rasanya pasti mendebarkan” kata ku. “Karena itu aku memilih untuk bergandengan tangan dengan Nao-san” kata Tora sambil tertawa. Maksudnya mungkin karena Nao-san mirip perempuan jadi cewek-cewek bisa membayangkan dengan mudah mereka sebagai Nao-san yang sedang bergandengan tangan dengan Tora. “Bukannya karena Nao-san terlihat muda?” tanya Saga sambil tertawa juga. (maap, tapi aku juga tidak mengerti apa maksud percakapan di sini hahaha)

Kemudian perjalanan malam berlanjut. Kami berempat melewati sebuah klinik yang nampak remang-remang, semacam ‘klinik gelap’ di dalam ruko begitu. Saat aku, Tora dan Nao-san berjalan melewati klinik itu, Saga malah berhenti di depan klinik itu. “Anak dokter, makanya jadilah dokter haha” kata Nao-san, dan kemudian aku teringat wajah Ibu Saga yang katanya perawat itu. Saga kemudian menunjuk-nunjuk ke arah klinik. Tora nampak antusias dan malah ikut masuk ke klinik itu bareng Saga sementara Nao-san dan aku nunggu di luar. Dan tak lama kemudian terdengar tawa Tora dan Saga dari luar. “Sial, mereka bersenang-senang  tanpa aku” kata Nao-san. Kemudian Nao-san (dan aku) melanjutkan perjalanan. Saat ditikungan Nao-san tiba-tiba nampak terkejut kemudian tertawa terbahak-bahak. Pas diliat ternyata di sana ada pintu yang di dalam nya berdiri seorang zombie (yang sebenarnya staff yang seharusnya menakut-nakuti anak-anak arisu tapi malah membuat Nao-san ketawa). Zombie nya pake jas cokelat muda, trus dibagian dada-perutnya dipakein perban, zombie nya kalo ngomong pelaaaaaaan banget. Nggak lama kemudian datang Tora dan Saga yang kemudian tertawa terbahak-bahak (juga) (sepertinya staff gagal menakut-nakuti anak arisu). “Ini yang tadi ada di klinik” kata Saga. Sepertinya mereka malah memergoki zombie jadi-jadian ini di klinik tadi sedang bersiap-siap, makanya mereka tertawa.

Endingnya kami berempat, berlima dengan si zombie malah berdiri membikin lingkaran. “Jadi?” tanya Nao-san. Zombie (staff) yang ngomongnya pelan (karena masih merasa berperan jadi zombie) memegangi dada nya yang berperban. “Aaaku.. tiiidak baawa koreeek” kata zombie itu. Ternyata si zombie ulang tahun?!!!! Kemudian staff lainnya membawakan sebuah lilin yang sudah menyala. “Oh, ini lilin yang harganya 15 ribu” kata Tora saat melihat lilin yang di kasih staff. (random banget muncul nya harga 15 ribu xD) “Emang kenapa kalo lilin harganya 15 ribu?” tanya ku. “Api nya susah mati meskipun kau tiup kuat-kuat” kata Saga. Kemudian Zombie itu mencoba meniup, tapi asli, api nya nggak mati-mati. Lalu aku, Nao-san, Tora dan Saga mencoba meniup lilin itu bersama-sama, ternyata apinya mengecil dan kami sudah berteriak ‘hore’ karena mengira lilin itu mati, tapi ternyata api nya nyala lagi. “Kalo ada Shou-san pasti bisa” kata Nao-san. “Iya, dia vokalis (pernapasan nya bagus)” kata Saga. Tak lama datang Shou-san (dengan outfit heart of gold) mencoba meniup lilin harga 15 ribu itu, tapi ternyata juga hasil nya nihil dan lilin itu nggak mati-mati juga apinya. “Kita celupin ke air aja” kata ku. “Jangan-jangan malah kecelup di bensin” kata Saga. Aku membayangkan ledakkan yang besar. “Cipratin aja dari air mineral kemasan, bisa dipastikan itu bukan bensin” kata ku.



Dan kemudian aku terbangun, gara-gara nyokap manggil dan bilang kalau kucing ku melahirkan. Sampai di sini petualangan jalan malam bersama Nao-san, Tora dan Saga. Aku nggak tau gimana ending dari lilin harga 15 ribu itu, apa bisa dimatikan apinya atau enggak. Hahahahaha… 


mimpi yang aneh :D


sekihan sekian ^  ^)/

Rabu, 07 September 2011

[fanfic] Sengoku Basara Fanfiction - I Can't Escape!!


kode title : [fanfic]
title : Sengoku Basara Fanfcition - I Can't Escape!!
music : nope 

title : I Can't Escape!!

author : Meg Kecil

starring : Masamune Date, Itsuki, Chosokabe Motochika, Takeda Shingen

chapter : oneshot

genre : romance

disclaimer : the real owner, father of all Sengoku Basara's chara.. Capcom...

special thanks : once again, zerochan.net, the place where i got the imagination


Itsuki membuka matanya perlahan, sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamarnya membuat matanya agak silau. Itsuki nampak tersentak kaget saat menyadari dirinya tertidur di tempat yang asing bagi dirinya, sampai akhirnya dia menyadari bahwa sebenarnya dia benar-benar berada di tempat tidur nya sendiri, lebih tepatnya tempat tidur nya yang baru di apartemennya yang baru juga. Itsuki tersenyum geli, merasa betapa bodohnya ia. Itsuki merenggangkan kedua tangannya tinggi-tinggi lalu melepaskan pandangan nya ke seluruh sudut kamar, masih kosong, hanya sebuah koper kecil miliknya, yang tergeletak di samping buffet kayu sederhana.”Balkon!” kata Itsuki segera beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar menuju balkon sekedar untuk menghirup udara segar. Sesaat kemudian raut wajahnya berubah, teringat apa alasan yang membawanya sampai kemari. Perjodohan! Jaman macam apa ini masih ada perjodohan? “Lagipula aku kan masih 17 tahun…” keluh Itsuki sambil meletakkan dagu nya di lipatan tangannya yang ia letakkan di atas besi pembatas balkon, dengan pandangan menerawang ke arah jalan kecil di depan apartemen barunya itu. Ayahnya Itsuki, Takeda Shingen, adalah seorang pengusaha kaya dengan karyawan yang jumlahnya puluhan ribu. Shingen berkata pada Itsuki bahwa ia akan ditunangkan dengan salah satu dari karyawan Ayah nya itu. Tentu saja Itsuki menolak, sebagai seorang gadis berumur 17 tahun, mana mau Itsuki memiliki tunangan seorang Salary man dan bayangkan perbedaan umur mereka?! Itsuki tidak ingin membiarkan hal itu terjadi, dan itulah mengapa sekarang ia berada di apartemen kecil ini, apartemen yang jauh dari kediamannya, dengan kata lain, Itsuki kabur dari rumah.

“Jpaarr!!” “Gyaa!!” Suara yang cukup keras dari balkon sebelah membuat Itsuki tersadar dari lamunannya dan spontan berteriak. “Ah! Maaf, apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba terdengar suara pria dari balik tembok pembatas balkon. “Iiya, aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut” kata Itsuki sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang karena masih kaget. “Maafkan aku, aku sedang merapikan kemeja ku” kata pria itu kemudian. “Iya, tidak apa-apa” kata Itsuki. Itsuki yang penasaran mendekati tembok pembatas balkon kemudian melongokkan kepalanya sampai-sampai balkon kamar apartemen sebelah dapat ia lihat dengan jelas, begitu pula dengan pria yang menggunakan tanktop putih dan celana denim hitam yang terlihat sedang menjemur pakaian itu. Sontak wajah Itsuki memerah, apalagi ketika pria itu tiba-tiba berbalik dan memergoki Itsuki yang terlihat seperti sedang mengintip itu. “A! A…. Halo.. Aku.. Aku Itsuki, aku baru saja pindah ke sini, kau tetangga ya? Halo Pak!” kata Itsuki nampak panik. Hening sesaat. “Hai Itsuki” kata pria itu tanpa ekspresi, lalu ia masuk kembali ke apartemennya. Itsuki manyun, hanya itu saja? pikirnya. Ia menarik kembali badannya. “Hanya itu saja?” gerutunya lagi. Ia menaikkan bahunya, bingung sendiri sebenarnya apa yang ia harapkan dari pria itu selain sapaan singkat seperti yang barusan ia lakukan.

Keesokan harinya, Itsuki yang baru saja keluar dari konbini, ia melihat pria tetangga itu melintas, kali ini mengenakan jas yang rapi. “Ah? Pak Tetangga!” panggil Itsuki spontan. Pria itu menoleh dan menemukan Itsuki tersenyum cengengesan ke arahnya. sejurus kemudian mereka berjalan bersama menuju ke apartemen mereka. “Panggil saja aku Masamune” kata pria itu memecah keheningan. Itsuki menoleh ke arah pria itu. “Oh.. Masamune-san?” kata Itsuki. Masamune,pria tetangga itu, tanpa memberikan respon, matanya lurus ke depan. Itsuki manyun. “Kau, salaryman?” tanya Itsuki. “Ah” jawab Masamune membenarkan. Itsuki mendengus, “Lari dari salaryman, ketemu salaryman”, gerutunya. Masamune menoleh ke arah gadis kecil yang berjalan di sampingnya. Itsuki kemudian menoleh sampai akhirnya mereka bertemu pandang. “Eh?!” kata Itsuki langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Masamune terdengar mendengus. Ia kemudian mengelus kepala Itsuki kemudian berjalan lebih cepat. Itsuki yang terkejut, memberhentikan langkahnya dan hanya bisa melihat punggung Masamune yang semakin lama semakin jauh dan tibadi apartemen nya lebih dulu. “Kenapa? Aku kan bukan anak kecil” gerutu Itsuki sambil memegangi kepalanya, Masamune membuat wajahnya memerah.

Itsuki menarik bangku kecil yang tadinya ada di belakang pintu, ke arah balkon dan lebih dekat ke pagar pembatas ke arah jalan. Sebelah tangannya memegang segelas cokelat panas kesukaannya. Ini adalah entah hari keberapa dia dalam pelarian, namun tak habis pikir Itsuki memikirkan, orang tuanya sama sekali tidak mencari nya? Ataukah apartemen ini begitu terpencil sampai-sampai ia sulit ditemukan? “Buat apa aku memikirkan itu, aku kan sedang kabur dari rumah” gerutu Itsuki sambil meminum cokelat panasnya. Pandangan Itsuki tersita dengan sebuah kepulan asap tipis daribalkon sebelah. Itsuki meletakkan gelasnya di atas kursi kemudian ia mendekati tembok pembatas balkon dan melongokan kepalanya. Masamune terlihat menggunakan setelan jersey biru sambil merokok dan entah melihat apa ke arah jalan. “Selamat malam, Masamune-san!” kata Itsuki. Masamune melepaskan rokok dari mulutnya lalu mematikannya ke dalam sebuah asbak kayu. “Kau belum tidur?” tanya Masamune. Itsuki terdiam sejenak, tertegun dengan pertanyaan itu. “Ini kan baru jam 9” kata Itsuki manyun. “Tidak baik anak kecil tidur terlalu malam” kata Masamune sambil beranjak dari kursi nya. “Hey! Aku ini 17 tahun!” kata Itsuki sewot. Masamune tidak memberikan respon, ia masuk begitu saja kembali ke dalam apartemennya dan mengunci pintu. “Dasar orangtua!” kata Itsuki sambil menarik kembali badannya.

Itsuki menutup mulutnya rapat-rapat. Ia berada di lorong sempit diantara gedung toko roti dan konbini yang sering ia kunjungi. Beberapa orang bawahan ayahnya terlihat di sekitar situ dan dia berusaha bersembunyi agar tidak ditemukan. Perlahan Itsuki keluar dari lorong itu dan kabur melalui jalan belakang. Yang ada dipikirannya saat ini adalah lari secepatnya agar bisa kembali ke apartemen sebelum ditemukan oleh orang-orang itu. Tiba-tiba “Brukk!!” Itsuki menabrak seorang pejalan kaki yang nampak seperti seorang salaryman. “Masamune-san!?” kata Itsuki yang menyadari bahwa orang yang barusan ia  tabrak punggungnya itu adalah tetangganya. “Apa yang terjadi?” tanya Masamune saat melihat Itsuki nampak ngos-ngosan dengan bawaan sebuah kantong plastik putih besar dari konbini. Itsuki menoleh, bawahan ayahnya terlihat sedang menyisir setiap orang yang lewat. Itsuki yang panik tanpa pikir panjang membuka kedua ikatan rambutnya dan membiarkan rambutnya yang biru muda hampir putih itu tergerai, dan memeluk Masamune!! “Hey!!” protes Masamune. “Lindungi aku tolong!!” kata Itsuki sambil menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Masamune. Masamune melihat ke sekelilingnya dan terlihat orang-orang mulai memandangi mereka dengan tatapan aneh. Sementara tak jauh dari sana ada beberapa orang dengan jas dan kacamata hitam yang terlihat sedang mencari sesuatu, atau seseorang. “Apa mereka mencari mu?” bisik Masamune, ia melihat Itsuki mengangguk. Saat orang-orang berjas hitam itu semakin dekat, Masamune kemudian memeluk Itsuki sampai akhirnya mereka berlalu dan menyerah, kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi. “Mereka sudah pergi” kata Masamune sambil melepaskan tangan Itsuki yang melingkar di pinggangnya. “Terima kasih” kata Itsuki sambil mengusap wajahnya yang basah. Masamune terkejut, anak ini menangis? batinnya. “Apa yang terjadi?” tanya Masamune. “Aku kabur dari rumah” jawab Itsuki singkat. Itsuki kemudian hendak mengambil kantong belanjaannya yang ia letakkan di sampingnya. Namun Masamune mencegahnya. “Biar aku saja yang bawa” kata Masamune sambil memegang tangan Itsuki. Ia lalu mengambil kantong belanjaan Itsuki untuk dia bawa lalu ia menggenggam tangan Itsuki yang mungil. “Kita pulang” kata Masamune kemudian. “Iya” kata Itsuki terisak.

Sebuah kedai minuman kecil. 2 orang pria salaryman tengah melepas letih di sana. Salah seorangnya adalah Masamune dan yang lainnya adalah Motochika, teman satu kantor dari Masamune. “Dasar pedophile, hahaha” kata Motochika sambil tertawa keras, sepertinya ia mulai mabuk. Motochika baru saja cerita kalau ia melihat Masamune sedang berpelukan dengan seorang anak kecil beberapa waktu yang lalu. Anak kecil yang di maksud adalah Itsuki. Masamune menjelaskan semuanya tetapi Motochika tetap saja menggodanya. “Dia itu 17 tahun” kata Masamune. “Dan kau 32?! Gadis itu separuh dari umur mu, hahahaha” kata Motochika. Masamune mendengus. “Oh ya, ku dengar kau bertunangan? Apa jadinya kalau tunangan mu tau kau pedhopile? haha” kata Motochika terus menggerutu. “Tunangan ku pergi sebelum tau aku pedhopile” kata Masamune sambil meminum sake nya dalam sekali tenggak. “Tapi aku tidak pedhopile!” protes Masamune, sepertinya ia juga sudah mulai mabuk. “Ngomong-ngomong, kau tau? Anak Shingen kabur dari rumah! Hahaha aku dengar itu” kata Motochika sambil beranjak lalu sempoyongan memberikan uang lalu keluar dari kedai. Begitupula Masamune. “Tentu saja aku tau! Sudah ku bilang kan tunangan ku pergi? Anak Shingen itu akan ditunangkan dengan ku” kata Masamune. Motochika menoleh ke arah Masamune. “Ahaha, kau tau Masamune, anak Shingen itu 17 tahun! Bagaimana dia tidak kabur kalau dia akan ditunangkan denga laki-laki 32 tahun?” kata Motochika. “Jangan-jangan gadis yang kau bilang itu anak Shingen?” gerutu Motochika sambil tertawa terbata-bata. Masamune menghentikan langkahnya. Terbayang wajah Itsuki di pikirannya.

Itsuki buru-buru beranjak dari tempat tidurnya saat terdengar seseorang menggedor-gedor kamar apartemennya dan meneriakkan namanya. “Masamune-san?” tanya Itsuki saat melihat Masamune berdiri di depan pintunya. “Bau sake!” kata Itsuki sambil menutup hidungnya. Sadar Masamune mabuk, Itsuki yang menjadi ketakutan menutup pintunya, tetapi berhasil di tahan oleh Masamune yang malah menarik tangannya dan menyeretnya keluar. “Tunggu! Lepaskan!” teriak Itsuki panik. Masamune melepaskan genggamannya, lalu menatap gadis itu. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Masamune dengan tatapan mata yang tajam. “Aku…” kata Itsuki ketakutan. “Kenapa kau kabur dari rumah?” tanya Masamune lagi. Itsuki menggeleng. Masamune berdecak lalu menyandarkan dirinya di dinding lalu terduduk. “Tunangan ku adalah anak dari bos ku, orang kaya yang memiliki perusahaan besar…” kata Masamune sambil memegangi kepalanya yang pusing. Itsuki mendekati Masamune. “Masamune-san, kau mabuk” kata Itsuki sambil memegang pundak Masamune, Itsuki tidak ingin Masamune menceritakan masalah pribadinya saat ia tengah mabuk, Itsuki merasa ia tidak harus mendengarkan itu. “Tapi dia kabur dari rumahnya saat kami harus bertemu pertama kalinya…” lanjut Masamune sambil menepis tangan Itsuki dari pundaknya. Itsuki tersentak, antara kaget dengan tepisan dari Masamune, dan juga cerita yang baru saja diucapkan olehnya. “Katanya dia gadis 17 tahun… Bodoh! Pantas saja dia kabur… Salaryman tua seperti ku tidak pantas… Untuk gadis 17 tahun anak orang kaya…” Masamune berusaha berdiri. Melihat itu Itsuki berusaha membantu, tetapi lagi-lagi Masamune menepis tangannya. “Masamune-san.. Aku…” kata Itsuki dengan wajah yang sedih. “Pulanglah putri Shingen” sempoyongan Masamune berjalan menuju pintu kamar apartemennya “Kau tidak seharusnya bertemu dengan seorang Salaryman saat kau menghindari Salaryman” gerutu Masamune saat meninggalkan Itsuki yang sedang galau.

Masamune membuka matanya perlahan, baru ia sadari dirinya tertidur di atas sofa. Saat  mendengar sebuah ketukan kecil di pintu kamar apartemennya, sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing, Masamune beranjak dari sofa tempatnya tidur dan membukakan pintu. “Kau?” tanya Masamune saat melihat Itsuki berdiri tegap di depan pintu kamarnya dengan sebuah koper kecil disampingnya. Masamune hanya mengkerutkan keningnya. “Aku akan pulang!” kata Itsuki manyun. Masamune tersentak. “Kali ini aku tidak akan kabur, dan harus ku pastikan Pak Tetangga datang ke rumah ku!” kata Itsuki sambil menunjuk ke arah Masamune, setelah mengatakan itu, wajah Itsuki malah memerah. Masamune hanya diam, lebih tepatnya terkejut. “Aku pulang!” kata Itsuki sambil melambaikan tangannya, lalu berbalik dan menarik koper kecilnya. Tanpa pikir panjang, Masamune menarik tubuh kecil Itsuki ke dalam pelukannya, dan memeluknya dari belakang dengan erat. “Ma.. Masamune-san!” kata Itsuki sedikit meronta, wajahnya merah padam. “Biarkan sebentar dulu” bisik Masamune. Mendengar itu Itsuki berhenti meronta, malah memegangi tangan Masamune dan rasanya tidak ingin membiarkan Masamune melepaskan pelukannya itu. “Aku suka Masamune-san” kata Itsuki kemudian. “Tapi aku Salaryman dan tua” kata Masamune. “Tidak apa-apa, lagipula kau tidak setua ayahku” kata Itsuki sambil mengelus tangan Masamune. Masamune melepaskan pelukannya, Itsuki membalikkan badannya dan menatap pria itu. Masamune kemudian tersenyum lembut begitupula dengan Itsuki. “Kau pulang dengan ku saja” kata Masamune sambil menarik koper kecil milik Itsuki ke dalam apartemennya. Itsuki terdiam di depan pintu. “Kau tidak mau masuk?” tanya Masamune saat menyadari Itsuki masih berada di luar. “Mau!!” kata Itsuki sambil mengangguk tegas lalu masuk ke kamar apartemen Masamune dan menutup pintunya. “Bagaimana aku bilang ke Pak Boss?” tanya Masamune, suaranya terdengar dari luar kamar. “Serahkan saja padaku!” kata Itsuki kemudian.





FIN

Minggu, 06 Maret 2011

[fanfic] Sengoku Basara Fanfiction - Because Your Eyes

kode posting : [fanfic]
title : Sengoku Basara Fanfiction - Because Your Eyes
current music : nope


title : Because Your Eyes

author : Meg Kecil

starring : Masamune Date, Sanada Yukimura, Chosukabe Motochika, Sarutobi Sasuke, Katakura Kojourou

chapter : oneshot

genre : action, friendship, pairing, love each other

disclaimer : the real owner, father of all Sengoku Basara's chara.. Capcom...

special thanks : zerochan.net (yang telah memperlihatkan sisi lain dari dunia Sengoku Basara sehingga memunculkan ide untuk pembuatan fanfic ini)




SMU Sengoku...

Sanada menemukan Date yang tertidur di lantai atap sekolah. Entah perasaan apa yang membuatnya ingin mendekati cowok dengan eyepatch di mata kanan nya itu. Betapa terkejutnya Sanada saat melihat orang yang mengenakan tshirt biru dibalik gakuran nya itu tengah menangis dalam tidurnya! Spontan Sanada menyentuh pipi Date dan menyeka air matanya. Tiba-tiba tangan Date menyergap tangan Sanada.

“Gawat!” batin Sanada. Dalam paniknya, Sanada mendengar Date mengegrutu, menyebutkan nama seseorang.

“Katakura…”

Pelan, Date menoleh. Saat membuka matanya, Date menyadari bahwa tangan yang ia genggam sekarang bukan tangan dari orang yang baru saja ia temui dalam mimpinya, bukan orang yang baru saja ia sebut namanya dalam igauan nya. Tetapi seorang anak muda sebayanya, cowok berambut merah dengan tshirt merah di balik gakuran yang sengaja tidak ia kancing. Merasa asing, Date melepas genggaman tangannya terhadap tangan Sanada.

“Maaf, aku tidak bermaksud membangunkan mu” kata Sanada sambil memegangi pergelangan tangannya. Meski tidur, genggaman tangan Date begitu erat dan kuat dan menyisakan sakit. Perlahan Date bangun dan duduk. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing. “Kau tidak apa-apa?” tanya Sanada saat melihat Date yang terlihat begitu lemah.

“Ah” kata Date yang mengisyaratkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Ia kemudian beranjak, meninggalkan Sanada sendirian di atap.

***

“Tshirt biru dan menggunakan eyepatch di mata kanan nya?? Tidak salah lagi, Masamune Date, One-Eyed-Dragon, sebagai murid baru kau memang harus mengetahui tentang dia. Dia adalah berandalan nomer satu dari sekolah kita. Dia adalah orang kuat dan ditakuti berandalan-berandalan dari sekolah lain. Ku sarankan kau jangan berurusan dengan orang itu” kata Sasuke. Saat Sanada bertanya kepada teman pertama di sekolah barunya itu, Sasuke hanya bisa memperingatkannya.

“Date… Orang berbahaya ya?..” gerutu Sanada.

“Yah… bisa dibilang begitu” kata Sasuke sambil melempar kaleng minuman tepat ke bak sampah yang cukup jauh dari tempatnya berada.

Sanada menggelengkan kepalanya pelan. Orang berbahaya? Batin nya. “Ah! Sasuke!” kata Sanada teringat sesuatu. Sasuke kemudian berbalik dan berjalan mendekati Sanada. “Katakura.. Apa kau mengenal orang yang bernama Katakura?” tanya Sanada teringat akan nama yang disebut-sebut oleh Date dalam tidur nya siang itu. Sasuke mengerutkan dahinya, menatap heran ke arah Sanada.

“Darimana kau tau nama itu?” tanya Sasuke curiga.

“Ah, itu…” Sanada memegangi kepalanya. Rambut merahnya mengisi setiap sela-sela jemarinya.

“Dia… adalah orang penting bagi Date” kata Sasuke dengan kedua tangan yang masuk ke dalam kantong celana dan menendang kerikil yang berada tepat di hadapan telapak kaki nya. Sanada tersentak. “Pada saat perkelahian dengan SMU Basara, Katakura meninggal akibat pendarahan kepala yang sangat hebat. Date sangat terpukul akan hal itu. Ku rasa karena itu lah ia tak lagi berkelahi dan berbuat onar” jelas Sasuke.

“Ah” kata Sanada mengerti. Kini ia tau arti dari air mata Date dalam tidurnya saat itu. “Orang penting ya..” pikirnya. Sanada lalu beranjak dari ayunan yang sedari tadi ia duduki.

“Mau kemana kau?” tanya Sasuke.

“Pulang” kata Sanada menoleh sedikit ke belakang melalui pundaknya.

“Berhati-hatilah!!” kata Sasuke. Sanada hanya mengangkat tangannya, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Bruk!!

Tanpa sengaja Sanada menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Karena merasa bersalah Sanada buru-buru meminta maaf.

“Date…” kata Sanada spontan saat melihat orang yang baru saja ia tabrak. Orang itu sama-sama mengenakan eyepatch seperti Date, bedanya orang itu mengenakan di sebelah kiri sedangkan Date menutupi mata sebelah kanannya.

“Apa?” kata orang yang berbadan tinggi besar itu dengan nada tersinggung sambil mendekati Sanada. Ia kemudian menatap Sanada dari ujung kepala sampai ujung kaki. Merasa terganggu dengan pandangan orang itu, Sanada hanya bisa mengerutkan dahi. “Jadi kau anak SMU Sengoku, huh?!” kata orang itu dengan nada bicara yang kasar.

“Ah! Memang kenapa?!” tanya Sanada membalas dengan tatapan tajam.

“Ku dengar kau tadi menyebut nama Date. Apa kau tidak tau? Aku tidak suka jika ada orang yang menyebut-nyebut namanya. Ah.. Aku jadi kesal… Rasanya… aku jadi sangat marah dan ingin… menghabisimu!!!”

***

Date menunduk mengambil minuman kaleng nya yang baru keluar dari mesin penjual minuman. Tiba-tiba ia mendengar pembicaraan beberapa orang yang lewat.

“Ku dengar Motochika kembali berulah?”

“Iya, lagi-lagi dengan anak SMU Sengoku. Kasihan anak itu. Padahal ku dengar ia baru saja pindah ke kota ini, sial sekali sudah langsung bertemu dengan Motochika, haha”

“Si rambut merah itu ya?! Aku melihatnya di kereta tadi pagi. Dia memang terlihat mencolok!”

Mendengar hal itu, yang terbayang oleh Date adalah seseorang berambut merah yang wajah nya tidak begitu ia ingat karena cahaya yang silau. Seseorang yang tidak ia kenal yang telah menyeka air matanya tadi siang.

***

“Uaaagggh!!!!!”

Tinjuan yang diberikan Motochika, ketua berandalan dari SMU Basara yang tanpa sengaja telah ditabrak oleh Sanada tadi, membuat Sanada sedikit muntah darah. Sanada tak mampu melawan karena ia berada dalam keadaan terikat.

“Apa… yang kau inginkan.. dariku?!” tanya Sanada terbata-bata. Darah segar mengalir dari ujung-ujung bibirnya. Dia terlihat begitu payah.

“Tidak ada, aku hanya tidak suka melihatmu!!”

Buggh!!!! Satu pukulan lagi dilancarkan Motochika ke arah wajah Sanada.

“Kau tau!?! Kau telah membuatku kesal!!!!”

Motochika kembali meninju arah perut Sanada. Sanada menjadi benar-benar kepayahan dan tidak mampu berbuat apapun. Ia hanya bisa tertunduk dan rambut merahnya menutupi wajahnya. Motochika mendekati Sanada lalu mengangkat dagunya. Sanada terlihat hampir pingsan.

“Sudah lama aku tidak bertemu Date” kata Motochika kemudian, dengan nada suara yang lebih lembut.

“Jika kau menyiksa ku hanya untuk bertemu Date, kau tidak akan bertemu dengannya. Dia tidak akan datang…” kata Sanada lirih. “Maka dari itu lepaskan aku…” pinta Sanada.

“MOTOCHIKAAA!!!!”

Suara itu bergema di gudang tua itu. Motochika hanya bisa tersenyum ke arah Sanada.

“Lihatkan?” Motochika lalu melepaskan tangannya dari dagu Sanada dengan kasar. Ia lalu berbalik dan berjalan ke arah orang yang telah meneriakkan namanya tadi. Masamune Date.

“Sudah lama tidak berjumpa, Date…” kata Motochika sambil merentangkan tangannya, mengharapkan sebuah pelukan dari Date.

“Berisikkk!!!” teriak Date. Date kemudian berlari, bukan untuk memeluk Motochika tapi memberikan sebuah tamparan yang kuat ke arah wajahnya hingga Motochika jatuh tersungkur.

“Kenapa…” gerutu Sanada lirih hampir tidak terdengar.

Gerombolan Motochika panik saat melihat boss mereka tersungkur, mereka hampir menyerang Date seandainya Motochika tidak berdiri dan mengehentikan mereka dengan isyarat tangannya. Gerombolan Motochika mengambil langkah mundur.

“Ini….” Motochika berdiri. “…adalah pertempuran ku dengan Date!!!” Motochika berbalik dan kembali menyerang Date. Date tidak dapat menghindar sehingga pukulannya tepat mengenai wajahnya hingga ia jatuh tersungkur. Motochika lalu berdiri di atas tubuh Date. Ia lalu menarik kerah baju Date. Dan hampir meninjunya, tapi…

“Anak itu…” kata Date. Motochika mengehentikan serangannya. “Tidak seperti Katakura!!!!” Date lalu menyerang Motochika balik sehingga ia bisa lepas dari cengkramannya. Dan perkelahian itu semakin sengit.

***

Beberapa waktu yang lalu…

“One-Eyed-Dragon… Mau kah kau bergabung bersama ku?” Motochika mengulurkan tangannya, pada Date.

“SMU Basara dan SMU Sengoku? Selamanya tidak akan pernah bersatu” kata Date.

“Kau kehilangan mata kanan mu dan aku memiliknya! Aku kehilangan mata kiri ku dan kau memilikinya!! Bukankah akan sempurna jika kita bersama?!” kata Motochika.

“Maaf, tapi aku sudah memiliki ‘mata kanan’ ku” kata Date sambil melangkah meninggalkan Motochika.

“Date!!” Motochika menarik tangan Date.

“Lepaskan… Motochika” kata Date dengan pandangan sinis. Motochika tertegun. Ia tak bisa melakukan apapun dengan tatapan Date yang seperti itu terhadapnya, kecuali melepaskannya. Date kemudian meninggalkan Motochika dan dari tikungan, Katakura muncul dan berjalan mengikuti Date di belakangnya.

“Katakura….” geram Motochika

***

Brukkk!!

Motochika jatuh tersungkur di hadapan tempat terikatnya Sanada. Sanada yang setengah sadar menatap raum Motochika yang tepat berhadapan dengan telapak kakinya. Date lalu membalikkan badan Motochika yang tidak berdaya dengan kaki nya. Ia lalu menarik kerah Motochika. Dengan sergap, Motochika memegang tangan Date. Dan tangan kirinya kemudian memegangi ke pipi Date. Date terkejut! Tiba-tiba ia teringat denga Katakura yang dulu melakukan hal yang sama saat ia ditemukan oleh Date dengan bersimbah darah. Perasaan Date menjadi kacau!!

“Ayo.. bunuhlah aku” kata Motochika. “Date…”

Date memjamkan matanya kuat-kuat. Ia terbayang bagaimana gudang ini, gudang yang sama, saat itu, menjadi begitu hening saat Motochika berhasil melumpuhkan Katakura. Saat dirinya tak mampu lagi melawan Motochika. Saat Motochika pun terdiam dan tidak pernah ia membayangkan bahwa ia mampu melakukan hal sejahat itu. Saat Katakura tersungkur. Saat dia memeluk Katakura. Saat Katakura menginginkan Date untuk tidak melakukan apapun kepada Motochika meski ia merasa dendam. Saat Katakura berkata bahwa sebenarnya Date adalah orang yang paling berharga bagi Motochika. Saat Katakura berkata bahwa Date adalah orang yang paling berharga bagi dirinya. Saat Katakura meminta maaf karena Date harus kehilangan lagi sebelah ‘mata kanan’ nya. Saat Katakura menutup matanya. Semua itu.. kembali teringat di pikiran Date.

“Katakura…”

Saat membuka lagi matanya, Date hanya bisa melepas cengkraman tangannya dari kerah Motochika. Lalu berdiri dan menatapnya dengan tatapan sinis. Melihat hal itu, gerombolan dari Motochika mendekati Motochika dan berusaha membopong boss mereka itu dan membawa nya menjauhi Date sementara Date melepaskan ikatan Sanada. Sanada yang lemah, terjatuh di pelukan Date. Ia kemudian membopong Sanada keluar dari gudang itu. Sebelumnya Date sempat memperingatkan Motochika untuk tidak mengganggunya lagi karena ia tidak bisa berjanji akan membiarkannya hidup jika suatu saat hal yang seperti ini terjadi lagi. Motochika hanya tersenyum, namun senyumannya seolah patuh apa yang dikatakan oleh Date.

“Kenapa… kau… menyelamatkan ku?” tanya Sanada lirih, tepat di samping telinga Date, saat ia tersadar dari pingsannya.

“Karena kau telah menghapus air mataku” kata Date dingin.

Sanada berusaha tersenyum dengan bibirnya yang terluka itu. "Date..."

"Ah?" tanya Date.

"Terima kasih" kata Sanada.






FIN





gyahahahaha

tamatnya gaje!!
( T^T)o
maaf... tapi mengumpulkan ide untuk menulis cerita ini benar-benar sangat menguras tenaga,
tidak mandi dan tidak makan hanya untuk membuat fanfic ini hahaha


terima kasih untuk membaca
jika ada komentar, sekiranya ada kekurangan dari fanfic ini, uneg-uneg, silahkan komen...
komentar anda sangat berharga demi kemajuan sang author..
terima kasih sekali lagi
m(_ _)m