Tampilkan postingan dengan label Tora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tora. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

nande boku dake ? (fanfiction)

Title : nande boku dake ?

Author : Meg Kecil

Genre : friendship, relationship, curious spirit (but not horror)

Starring : 

ViViD

Shin

Ryoga

Ko-Ki 

Reno

IV

Alice Nine Shou as Shou-senpai

 Alice Nine Tora as Tora-senpai

and
Exist Trace Miko as Miko-sensei






Nande Boku Dake ? ?



Lapangan basket aula SMU Peace and Smile. Riuh ramai pertandingan antara kelas 2-B VS 3-D yang terkenal jago-jago basket kayak Shou-senpai sama Tora-senpai. Sementara di kelas 2-B ada Shin yang populer sebagai ace waktu kelas 1 dulu dan sekarang sudah jadi kapten basket SMU Peace and Smile menggantikan Shou-senpai yang sudah lengser jabatan karena anak-anak kelas 3 sudah tidak diperbolehkan aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Kecuali hari ini, mereka bisa main atas nama kelas, bukan klub, untuk merayakan acara pekan olahraga sekolah.
“Shin!!” teriak Ryoga menyemangati teman sekelasnya itu dari bangku penonton.
“Ayo ayo Shin!!” teriak Ko-Ki tidak kalah sampai ia harus berdiri saking semangatnya melihat pertandingan yang menegangkan itu. Ryoga terpaksa menarik Ko-Ki duduk karena murid yang duduk di belakangnya terdengar misuh-misuh gara-gara ketutupan Ko-Ki. Ko-Ki nampak kesal gara-gara hal itu, tapi pelototan Ryoga membuatnya patuh.
“3 menit lagi, angka tipis” kata Ryoga sambil melirik ke papan score.
“Sial! ini menegangkan!!” kata Ko-Ki sambil menggosok-gosok kedua tangannya.
“Yang tanding kelas kami juga” kata Ryoga. Ryoga dan Shin memang satu kelas di 2-B, sedangkan Ko-Ki anak kelas 2-A.
“Iya, tapi Shin kan  teman gue juga? Wajar dong” kata Ko-Ki sewot.
“Apaan kelas 2-A baru penyisihan sudah K.O” ejek Ryoga sambil ketawa.
“Yang penting cerdas cermat kami juara 1” bangga Ko-Ki yang mewakili lomba satu itu. Ryoga diam. Anak kelas 2-A memang wadahnya juara-juara akademik. “Who!! Sial!!” teriak Ko-ki kemudian saat Shin nge-lay up di dalam garis dua angka, tapi berhasil di halau oleh Tora-senpai yang berbadan tinggi dan akhirnya Shin gagal  mencetak skor. Bola jingga itu di tangan Shou-senpai sekarang.
“Tora memang jago di pertahanan” kata Ryoga sambil melipat tangan di dada dan matanya tak lepas dari lapangan. Tiba-tiba Shou-senpai mengoper bola, sebenarnya ditujukan ke arah pemain lain, tapi ada Shin di sana yang mencoba menangkap operan bola namun dalam waktu yang tidak tepat, lemparan bola dari Shou-senpai yang cukup kuat malah membentur kepalanya sampai Shin limbung dan jatuh di tengah lapangan.
“Shin!!” teriak Ryoga dan Ko-Ki bersamaan, kali ini bukan hanya mereka yang berdiri melihat kejadian itu, tetapi hampir semua orang yang menonton pertandingan yang hampir selesai itu berteriak dengan nada prihatin. Semua pemain berkumpul di lapangan dan memeriksa keadaan Shin, tak lama kemudian tim kesehatan masuk dan membawa Shin ke pinggir lapangan. Ryoga menepuk pundak Ko-Ki. Ko-Ki yang mengerti langsung beranjak dari bangku penonton dan bergegas menghampiri teman mereka yang langsung di bawa ke ruang kesehatan itu.
“Ugh” Shin mulai tersadar saat hari telah sore. Ko-Ki yang terkantuk-kantuk langsung membangunkan Ryoga yang telah tertidur pulas di tempat tidur sebelah setelah menyadari Shin siuman dari pingsan nya. Ryoga beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Shin, sementara Ko-Ki mencari Miko-sensei.
“Baik-baik aja lu?” tanya Ryoga.
“Astaga! Sore?! Gimana pertandingan?” tanya Shin. Ryoga menyipitkan matanya yang sudah sipit.
“2-B menang kok meski tanpa lu, sekarang, lu gimana? Lu pingsan lama banget” kata Ryoga dengan nada khawatir.
“Syukur deh kalo menang” kata Shin lega.
“Shin! Elu ih gue tanyain! Gue sama Ko-ki khawatir tau. Lu malah mikirin pertandingan” kata Ryoga sewot.
“Iya! Gue nggak apa-apa, santai aja. Kepentok sedikit juga” kata Shin sambil mengelus kepalanya. “Wah, gue masih seragaman” katanya baru menyadari kalau masih pakai seragam basket nya. Ryoga mendengus, ni anak satu. batin nya. Tak lama Ko-Ki datang bersama Miko-sensei. Setelah diperiksa sebentar, Shin sudah diperbolehkan pulang. Saat keluar dari ruang kesehatan, Shin, Ryoga dan Ko-ki berpapasan dengan Shou-senpai dan Tora-senpai.
“Wah, baru mau aku jenguk” kata Shou sambil menurunkan tas yang dari tadi di bawa dengan tangannya di pundak. “Kau tidak apa-apa? Aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Aku benar-benar tidak sengaja” kata Shou-senpai sambil menundukkan badannya sedikit
“Ah! Senpai?” kaget Shin. “Nggak apa-apa, Gue.. ah! Saya nggak apa-apa! Kebetulan sejak pagi saya makan sedikit, mungkin karena kaget dan faktor itu makanya jadi pingsan haha memalukan” kata Shin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ryoga dan Ko-Ki saling tatap. Mereka berdua tau, siapa diantara mereka yang makan paling banyak tadi pagi, Shin. Anak satu itu memang pernah bilang kalau dia sangat menghormati Shou-senpai, mungkin ia tidak ingin membuat Shou-senpai kecewa.
“Syukur lah kalau tidak apa-apa. Aku duluan ya” kata Shou-senpai pamit. Tora-senpai juga mengangkat tangannya dan mereka berdua pergi.
“Kita juga harus pulang” kata Ko-Ki kemudian, diiyakan Ryoga.
“Sebentar, tas gue masih di aula” kata Shin.
“Ko-Ki, bukannya gue tadi suruh lu ambilin tas Shin di aula?!” tanya Ryoga.
“Eh?! Masa?” kata Ko-Ki di sambut jitakan oleh Ryoga.
“Nggak apa-apa, gue bisa ambil sendiri. Kalian tunggu di gerbang deh” kata Shin sambil berlalu. Ryoga dan Ko-Ki menyetujui perjanjian itu. Mereka kemudian menuju gerbang sekolah dan menunggu Shin di sana sementara Shin mengambil tas nya yang tertinggal di aula SMU Peace and Smile.
“Lama juga gue pingsan nya” gerutu Shin saat masuk ke dalam ruang ganti yang tempatnya tidak jauh dari aula. Ia kemudian membuka salah satu loker ruang ganti itu. Shin langsung mengambil seragam yang tergantung rapi di dalam loker nya, melipatnya sebentar dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Kemudian buru-buru keluar karena hari sudah sangat sore dan Ryoga dan Ko-Ki pasti sedang sudah menunggu. Namun langkah Shin terhenti ketika ia mendengar seperti ada yang main basket di aula, karena penasaran Shin menuju aula. Seorang cowok dengan tinggi yang nampak seperti Ko-Ki terlihat berdiri di bawah ring dan memantul-mantulkan bola basket jingga itu ke lantai, suaranya menggema ke seluruh aula yang sudah sepi. “Anak kelas satu?” pikir Shin. Kemudian ia teringat Ryoga dan Ko-Ki. “Ah, nanti pulang kesorean” buru-buru Shin meninggalkan aula indoor. Sementara anak misterius itu membiarkan bola basket bergulis di lantai, ia menoleh ke arah Shin yang sudah jauh. Dan di luar aula, Reno, cowok yang populer di kalangan cewek Peace and Smile karena dianggap tampan dan misterius, juga cowok yang ‘populer’ di kalangan cowok Peace and Smile karena dianggap cowok aneh, gak jelas dan saingan buat ngerebut perhatian cewek-cewek, mengamati Shin sambil melipat kedua tangannya di dada. Lalu ia melirik ke dalam aula, bergidik, lalu lari.
***
“A.. apa?” tanya Shin sedikit panik ketika Reno tiba-tiba nimbrung saat ia dan dua sahabatnya yang lagi santai di area atap. Sebagai cowok yang paling enggak pengen diharapkan kehadirannya pada saat kumpul-kumpul bareng temen, Reno ditatap aneh oleh ketiga sahabat itu, apalagi kedatangan nya yang begitu tiba-tiba.
“Gue, pengen ngomong, ama elu” kata Reno sambil nunjuk Shin dengan pasti.
“Tentang… apa?” tanya Shin, ia gak pernah mikir sebelumnya kalo ia bakal berurusan sama cowok aneh satu ini. Reno kemudian merangkul pundak Shin yang otomatis kaget! Begitu juga dengan Ko-Ki dan Ryoga yang kemudian saling sikut-sikutan, dorong-dorongan dan jitak-jitakan.
“Tentang…” Reno kemudian berbisik. “Anak di aula ” bisik Reno. Shin nampak terkejut.
 “Apa salah nya sama tu anak?” Shin balik tanya dengan berbisik.
“Salah!” kata Reno sambil beranjak dan kembali menunjuk Shin dengan pasti.
“Apa?!” tanya Ryoga dan Ko-Ki bertanya-tanya. Reno melirik ke dua sahabat Shin itu.
“Ehem, sebenarnya gue pengen membicarakan ini dengan Shin aja” kata Reno sok-sok megang jidat.
“Kurang asem” bisik Ryoga. “Ayo King..” kata Ryoga mengajak Ko-Ki. “Shin! Abis ini cerita ya” kata ryoga sambil beranjak dari tempat nya. Ko-Ki mengikuti langkah Ryoga. Reno kemudian duduk menempati bangku yang tadi di duduki Ko-Ki.
“Lalu?” tanya Shin.
“Lu bisa liat anak itu kan?” tanya Reno, wajah nya agak serius dari yang sebelumnya.
“Bisa? Bisa lah! Anak kelas satu kan? Soalnya aku jarang liat dia” kata Shin menjawab serius.
“Jarang liat, karena dia anak kelas satu, atau karena kita emang nggak pernah tau siapa dia?” tanya Reno. Ia kemudian menarik bangku nya semakin dekat ke Shin.
“Maksud lu?” tanya Shin, tiba-tiba ia merinding. “Lu jangan-jangan… Jangan nakutin gue deh” kata Shin kemudian. Shin teringat salah satu gossip mengenai Reno, kalau cowok satu ini bisa melihat hal-hal gaib! Reno mengangkat kedua bahu nya.
“Gue sih pernah denger, kalo dulu, ada anak basket yang meninggal sebelum turnamen antar kelas kayak yang kemaren. Gue sih nggak bisa liat, tapi udah lama gue bisa ngerasain kalo di aula, emang ada aura-aura aneh Shin. Sekarang, gue cuma mau bilang ke elu, hati-hati ya, soalnya cuma elu yang bisa liat dia, hiii” kata Reno bergidik sendiri lalu beranjak dari bangku nya dan kabur.
“Woy! Reno! Woy! Gila lu nakutin gue aja kan?! Woy!” protes Shin yang tiba-tiba meninggalkan dirinya sendirian di atap.
“Kalau ada apa-apa, panggil gue!!” teriak Reno sambil berlalu.
“Kurang asem tu bocah” gerutu Shin. Shin kembali merinding. Ia lalu memutuskan untuk keluar dari area atap.
***
“Nggak, gue mungkin nggak akan cerita ini ke Ryoga atau Ko-Ki” pikir Shin di ruang loker aula setelah dia latihan basket. Shin masih kepikiran soal percakapan siang tadi sama Reno, “Sial! Sejak kapan sih gue…” Shin tiba-tiba ingat tentang kecelakaan pas pertandingan beberapa waktu yang lalu. Shin lalu memegangi kepalanya. “Apa cuma gara-gara itu lalu gue bisa liat?” gerutu Shin lagi.
“Shin, gue duluan” kata salah satu anggota basket setelah ia menutup loker nya.
“Oke” kata Shin setelah tersadar dari lamunannya. Sekarang, dia sendirian di ruang loker. “Kurang asem!” kata Shin yang mulai mikir yang enggak-enggak. Ia bergegas merapikan tas dan seragam sekolahnya. Lalu menutup lokernya cepat-cepat. Saat hendak keluar dari ruangan…
“Whoaaaa!!!” kaget Shin. Begitu pula cowok dengan kaos putih dan celana pendek dengan bola basket di tangannya, ikut kaget dan teriak saat ia hampir bertabrakan dengan Shin. “Ah, sori, kaget gue” kata Shin.
“Haha, iya, nggak apa-apa, sori kalo ngagetin” kata cowok dengan suara yang agak cempreng dan tinggi badan yang kurang lebih  sama dengan Ko-Ki itu. Cowok itu kemudian menuju lokernya. Shin melihatnya sedang beberes dengan santainya. Shin menelan ludah, ia melihat ke kaki anak itu.
“Nyentuh tanah, badannya juga nggak transparan” pikir Shin agak lega. “Sori, tapi gue gak pernah liat lu sebelumnya, lu anak basket?” tanya Shin memberanikan diri. Jantungnya berdegup kencang, takut kalo jawabannya aneh-aneh.
“Hahaha, mana ada anak basket badannya pendek kayak gue” kata cowok itu. Shin merasa miris mendengar kata-katanya tadi, sebenarnya tinggi badan bukan masalah di basket, pikirnya. “Tapi gue seneng basket, makanya gue sering ke sini, tapi pas kalian dah kelar latihan” kata cowok itu.
“Sayang banget, basket kan permainan tim, kalo lu main sendirian percuma. Kalo lu mau gabung sama tim, bisa aja, gue kapten dan gue rasa gue bisa urus semuanya dan rekomendasiin lu biar bisa masuk tim” kata Shin yang mulai menghapus segala pikiran negatifnya terhadap cowok ini sebelumnya.
“Haha, thanks, tapi gue nggak bisa” kata cowok itu sambil berlalu membawa bola basket jingganya, mau memulai latihan basket private nya. “Oh ya, nama gue Iv anak kelas 1-D, lu Kapten Shin kan?” tanya Iv kemudian.
“Iya” kata Shin sambil membenarkan posisi tasnya.
“Salam kenal” kata Iv sambil tersenyum dan mendribble basketnya keluar dari ruang loker dan masuk ke aula. Shin memperhatikan permainan Iv sejenak, tidak buruk. Ia memiliki gerakan yang bagus. Shin kemudian melirik ke jam dinding aula.
“Aish, telat gue” kata Shin yang baru ingat ada janji makan di McD bareng Ko-Ki dan Ryoga. Ia kemudian bergegas meninggalkan aula.
***
“Kurang asem Reno, ternyata emang nakut-nakutin gue aja. Terbukti kan ga ada hantu di aula. Iv, anak kelas 1-D” batin Shin sambil memasukkan sepatunya ke dalam loker lalu menggantinya dengan sandal sekolah.
“Bro!” Ryoga menepuk bahu Shin sambil melepas kedua sepatunya.
“Kaget gue” kata Shin sambil memusut dada.
“Kenapa? Akhir-akhir ni lu jantungan?” tanya Ko-Ki yang  lokernya diseberang.
“Jangan-jangan?!!” tanya Ryoga panik.
“Santai bro, gue gak apa-apa!” kata Shin sambil nepuk pundak Ryoga.
“Pagi Shin” cengengesan Reno menyapa Shin saat Shin berbalik. Shin menghela nafas.
“Oiya, lu belum nyeritain ke kita tentang pembicaraan kalian kemaren” kata Ko-Ki sambil mendekati mereka bertiga.
“Lu mau nyeritain ke mereka?!” kaget Reno.
“Iya. Jadi, Si Reno ini bilang kalau di aula basket ada hantu kaka kelas, dan dia pikir, gue, bisa lihat hantu itu. Dan ternyata? Omong kosong. Gue bisa pastiin, yang gue liat kemaren anak kelas 1-D dan namanya Iv” cerita Shin. Reno terdiam.
“Emang nggak bisa dipercaya” kata Ryoga sambil berlalu, diikuti oleh Ko-Ki.
“Lu yakin?” tanya Reno.
“Yakin” kata Shin dengan wajah serius. Reno menundukkan kepalanya, lalu terlihat pasrah.
“Yah, baguslah kalo selama ini gue salah” kata Reno. Shin kemudian berlalu, tapi Reno masih merasa ada sesuatu sama Shin.
***
“Guys! Sori, kalian pulang duluan ya” kata Shin saat bel pulang berbunyi.
“Kenapa?” tanya Ko-Ki yang sedari tadi berdiri di depan pintu kelas 2-B, menunggu teman-teman nya keluar kelas.
“Mo latihan basket, biasa…” kata Shin sambil mengambil tas nya.
“Bukannya hari ini ga ada jadwal latihan?” tanya Ryoga yang masih beres-beres, ia menoleh ke arah Ko-Ki yang kemudian mengangkat bahu.
“Em.. Latihan sendiri sih” Kata Shin.
“Ya udah” kata Ryoga dan Ko-Ki bersamaan. Shin kemudian berlari kecil keluar dari kelas meninggalkan Ko-Ki dan Ryoga. Ko-Ki kemudian masuk ke kelas dan mendekati Ryoga.
“Gue rasa dia latihan sama anak yang namanya Iv itu” kata Ko-Ki.
“Iya, soalnya dia tadi juga bilang kalo Iv sering latihan sendirian jam segini kan?” tanya Ryoga.
“Katanya mau di rekrut juga, Shin kan kapten” kata Ko-Ki. Ryoga manggut mengiyakan.
“Ke McD?” ajak Ryoga.
“Sip!” Dan dua sekawan itu pun cabut.
Sementara itu, Reno keluar dari toilet dengan wajah agak pucat sambil memegangi perutnya.
“Makan apa gue?” gerutunya dengan muka masam. Reno kemudian berjalan lunglai menuju ruang kesehatan. “Miko-sensei?” sapa Reno saat melihat guru kesehatan itu. Miko-sensei nampak meletakkan kembali sebuah figura foto ke tempatnya.
“Reno? Ada apa?” tanya Miko-sensei lembut.
“Anu bu, minta obat sakit perut” Kata Reno malu-malu. Miko-sensei beranjak dari meja kerja nya.
“Kenapa? Salah makan?” tanya Miko-sensei sambil membuka lemari obat sementara Reno duduk di tempat tidur tepat di depan meja kerja Miko-sensei, sebenarnya ia penasaran dengan figura foto yang barusan dipegang Miko-sensei. Dalam foto itu, nampak Miko-sensei bersama anak laki-laki dengan seragam yang sama dengan seragam SMU Peace and Smile. “Ini” kata Miko-sensei sambil menyerahkan obat yang diminta Reno.
“Itu siapa sensei?” tunjuk Reno sambil mengambil obat yang diserahkan Miko-sensei kepadanya.
“Kakak kelas kalian, dia adik ku” kata Miko-sensei. “Bisa dibilang begitu sih” katanya sambil tersenyum.
“Maksudnya?” tanya Reno sambil minum obat.
“Entah sejak kapan kami jadi akrab, dia sudah ku anggap adik ku sendiri” jelas Miko-sensei. Reno mengangguk mengerti. “Sejak anak kelas 2-B itu ke ruang kesehatan beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba aku merindukannya” Kata Sensei.
“Shin?? Apa hubungannya?” tanya Reno yang jadi antusias.
“Iya, dia juga pebasket. Tapi tidak pede dengan tinggi badannya. Dia sering berkeluh kesah, katanya dia selalu dihina temannya. Tapi ku bilang kalau dia memang memiliki kemampuan tidak usah bersedih. Lucu. Karena Shin juga pebasket, aku jadi teringat dengannya” cerita Miko-sensei.
“Kakak kelas ya?” tanya Reno nampak berpikir.
“Iya, kalian tidak kenal sih, namanya Iv” kata Miko-sensei. Reno nampak terkejut mendengar nama itu. “Tapi dia meninggal beberapa tahun yang lalu, sebelum pertandingan pertamanya” kata Miko-sensei dengan wajah sedih.
“Shin dalam bahaya!” kata Reno.
***
“Kok bisa ada di tempat Shin?!!!” marah Ko-Ki sambil tersu berlari di belakang Ryoga.
“Gue tadi nitip ke dia pas ke toilet!!!” kata Ryoga panik sambil terus berlari. Pas barusan masuk McD, tiba-tiba Ryoga sadar kalau dia tidak membawa dompet dan dompetnya ada di tempat Shin. Kebetulan uang Ko-Ki pas-pasan dan nggak bisa buat makan berdua. Alhasil mereka lari kembali ke sekolah.
***
Aula basket.
“Tu kan.. Menurut gue, lu mending masuk tim deh” Shin menyeka keringatnya, habis 1 on 1 sama Iv tanding basket. Iv cengengesan sambil mendribble bola.
“Satu kali lagi, kalo lu bisa rebut bola ini dari gue dan cetak angka, gue bakal masuk tim. Tapi kalo nggak, gue ada permintaan dari lu” kata Iv.
“Permintaan?” tanya Shin. Belum sempat dijawab, Iv sudah mendribble bolanya menuju ring Shin, tidak ingin kalah, Shin mengejar Iv, dan berhasil merebut bola! Dengan percaya diri Shin membawa bola menuju ring Iv, Shin lay up, tapi Iv berhasil menghalau bola. Bola di Iv, Shin mengejar Iv sampai Iv berhenti di tengah lapangan dan melempar bola dengan berani dari jarak itu dan…. bola masuk ke keranjang!! Shin menganga seakan tidak percaya. Iv tersenyum.
“Sekarang, permintaan gue…” Iv mengulurkan tangannya. Shin tanpa pikir panjang menyambut uluran tangan Iv dan mereka bersalaman. “Gue… Pengen ketemu Miko” kata Iv.
“Hah?!!” bingung Shin.
***
“Shin!!” teriak Ryoga sampai di aula saat melihat Shin berdiri sendirian di tengah lapangan. “Shin dompet gue…” Ryoga nampak terkejut saat melihat Shin yang nampak diam.
“Shin?” tanya Ko-ki. Shin menoleh, tapi tatapan matanya beda. Tanpa menghiraukan Ryoga dan Ko-Ki, Shin berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Iv!!!!!” teriakkan Reno menggema di aula basket. Nampak terengah, Reno mengejutkan Ryoga, Ko-Ki dan ‘Shin’. Reno mendekati ‘Shin’ dan memegang pundaknya. Ryoga dan Ko-Ki berlari kecil mendekati mereka berdua.
“Ada apa ini?” panik Ryoga.
“Lu Iv kan?! Jawab gue!!” teriak Reno. Ryoga dan Ko-Ki terkejut.
“Kalo iya, kenapa?” jawab ‘Shin’ dengan suara yang berbeda.
“Keluar lu dari badan Shin atau gue usir lu dengan cara kasar!!” kata Reno sambil mengeluarkan kitab kecil dari saku celananya. Iv yang telah merasuki badannya Shin menepis tangan reno sampai kitab kecil itu lepas dari tangannya.
“Berisik lu!” marah Iv. Hampir ia keluar aula, sampai akhirnya Miko-sensei muncul dan nampak terengah.
“Iv?” tanya Miko-sensei.
“Miko?” tanya Iv. Miko kemudian berlari dan memeluk Shin yang telah dirasuki Iv. Reno, Ryoga dan Ko-Ki kemudian mendekati mereka berdua.
“Ternyata selama ini kau di sini?” tanya Miko-sensei terharu.
“Miko, sekarang aku adalah pemain basket yang hebat” kata Iv.
“Iya” kata Miko-sensei. “Kau memang pebasket hebat, sejak dulu” lanjutnya.
“Tapi aku tidak bisa ikut pertandingan!” kesal Iv, kemudian meneteskan air mata. “Padahal aku sudah berjanji” sambung Iv.
“Tidak apa-apa” kata Miko-sensei.
“Maafkan aku ya?” kata Iv
“Kamu nggak salah” kata Miko-sensei.
“Aku senang ketemu Miko” kata Iv. Miko-sensei nampak terkejut, Iv kemudian melepas pelukannya. “Katakan pada Shin, terima kasih banyak” kata Iv pada Reno. Reno mengiyakan dengan ragu.
“Iv?” tanya Miko-sensei. ‘Shin’ nampak tersenyum.
“Terima kasih” kata Iv kemudian. Tak lama kemudian, Shin nampak tersadar.
“Shin?” tanya Reno memastikan.
“Dompet lu Ga” kata Shin yang telah kembali saat melihat Ryoga, saat berbalik, Shin tumbang, namun sempat ditangkap oleh Reno.
“Shin!!” panik Ryoga dan Ko-Ki.
“Nggak apa-apa, dia Cuma capek” kata Reno. Reno kemudian menerawang ke seluruh aula, melihat hal itu Ryoga dan Ko-Ki ikut-ikutan memandangi seluruh sudut aula.
“Iv… sudah pergi” kata Reno. Miko-sensei kemudian menyeka air matanya.
“Dia sudah benar-benar pergi” kata Miko-sensei
***
“Jadi, ternyata Iv memang kakak kelas kita, beberapa tahun di atas kita. Dia entah sejak kapan jadi akrab dengan Miko-sensei. Meskipun Iv memiliki perasaan yang lebih pada Miko-sensei, Miko-sensei hanya menganggap Iv sebagai adik laki-lakinya saja. Bagi Iv, Miko-sensei adalah satu-satunya orang yang mempercayai kemampuan basketnya sementara orang lain tidak dan bahkan banyak yang menghinanya karena badannya yang tidak terlalu tinggi sebagai seorang pemain basket. Karena dukungan Miko-sensei, akhirnya Iv masuk tim, tapi sebelum pertandingan pertamanya, Iv malah mengalami kecelakaan dan tewas. Padahal Iv telah berjanji kalau dia akan memenangkan pertandingan itu demi Miko-sensei” Jelas Reno panjang lebar. Shin, Ryoga dan Ko-Ki terdiam.
“Terlepas dari dia adalah hantu, Iv benar-benar jago basket” kata Shin kemudian. Yang lain mengangguk.
“Ternyata Miko-sensei suka brondong ya?” kata RYoga. Satu geplakan keras dari Ko-Ki.
“Ngomong-ngomong, Reno, lu beneran bisa ngusir hantu?” tanya Ko-Ki teringat dengan kitab kecil di aula waktu itu.
“Enggak” kata Reno cengengesan. “Soal kitab kemaren gue nemu di toko buku-buku bekas. Hahaha kenapa? Kagum? Kagum ya?” tanya Reno cengengesan.  Shin, Ryoga dan Ko-Ki langsung bubar. “Oy! Jangan tinggalin gue!” kejar Reno.


-end-

thanks for reading

comment open.. ^  ^)/

Rabu, 28 Desember 2011

entry Dec28 - such a weird dream -


sebelumnya, ini bukan fanfic, tapi ini adalah mimpi ku malam tadi. sesaat setelah aku bangun dari tidur, aku bergegas menulis ini sebelum aku lupa. sebenarnya aku nggak tau apa baik menceritakan mimpi seperti ini, tapi ini mimpi terlalu seru untuk diabaikan. meskipun buka fanfic, aku akan memberikan label pada postingan ini adalah 'fanfiction' karena ini memang terbaca seperti fanfic (LoL)

mimpi malam tadi, mungkin aku berperan sebagai kameramen acara Alice9Channel (LoL) dan guest hari itu adalah Nao-san dan Saga, tentu saja dengan Tora sebagai host nya.



Scene mimpi diawali dengan Nao-san, Saga dan Tora yang minum-minum di sebuah kedai, kemudian tiba-tiba Nao-san keluar dari kedai dalam keadaan mabuk berat dan lari sepanjang jalan raya yang lumayan sepi. Tora dan Saga yang juga dalam keadaan mabuk disuruh staff untuk mengejar Nao-san. Dan dalam keadaan mabuk Tora dan Saga akhirnya mengejar Nao-san, tapi karena mabuk, lari mereka jadi pelan dan malah nggak bisa ngejar Nao-san. Sepanjang jalan Tora dan Saga memanggil-manggil Nao-san supaya berhenti berlari. Anehnya dalam mimpi ku itu Tora dan Saga memanggil Nao-san dengan nama “Kipli” ?!!! (LOL) dan pada saat itu, aku yang ada di dekat mereka berdua, menemani mereka lari mengejar Nao-san, karena aku adalah kameramen, berpikir, ternyata selama ini nama asli Nao-san adalah “Zulkipli” ! ! ! (LOL sangat)

Tidak lama kemudian Nao-san terkejar, dan akhirnya Tora, Saga dan Nao-san malah jalan-jalan malam bertiga, berempat sama aku (sekali lagi aku kameramen dan aku yang punya mimpi di sini hahaha). Saat berjalan bertiga, Tora dan Saga melihat seorang laki-laki berjas (mungkin salaryman yang pulang larut) yang berpapasan dengan mereka dan nampak mabuk juga. Lalu kata Saga : “Judi! tweeew” (menirukan bang Haji Rhoma). Mungkin pada saat itu Saga pikir orang itu nampak seperti orang yang baru pulang berjudi. Kemudian, Tora juga mengikuti Saga “Judi! Tzzzweeeewww” kata Tora yang notabene nya adalah gitaris (ngakak).

Tiba-tiba aku menyadari, Tora sedari tadi sepanjang jalan mengepalkan sebelah tangannya. “Sepertinya dia kedinginan” kata ku, Tak lama kemudian, Tora mendatangi Nao-san lalu menggenggam tangannya, dan kemudian mereka berdua berjalan bergandengan tangan!!! “Aku nggak tau dia adalah tipe orang yang suka bergandengan tangan” kata Saga sambil nunjuk Tora, sementara mereka berdua (Tora dan Nao-san) kelihatan bahagia(?). “Ne, Nao-san, tau nggak, sekarang aku membayangkan kalau aku sedang dalam posisi Nao-san dan bergandengan tangan dengan Tora, rasanya pasti mendebarkan” kata ku. “Karena itu aku memilih untuk bergandengan tangan dengan Nao-san” kata Tora sambil tertawa. Maksudnya mungkin karena Nao-san mirip perempuan jadi cewek-cewek bisa membayangkan dengan mudah mereka sebagai Nao-san yang sedang bergandengan tangan dengan Tora. “Bukannya karena Nao-san terlihat muda?” tanya Saga sambil tertawa juga. (maap, tapi aku juga tidak mengerti apa maksud percakapan di sini hahaha)

Kemudian perjalanan malam berlanjut. Kami berempat melewati sebuah klinik yang nampak remang-remang, semacam ‘klinik gelap’ di dalam ruko begitu. Saat aku, Tora dan Nao-san berjalan melewati klinik itu, Saga malah berhenti di depan klinik itu. “Anak dokter, makanya jadilah dokter haha” kata Nao-san, dan kemudian aku teringat wajah Ibu Saga yang katanya perawat itu. Saga kemudian menunjuk-nunjuk ke arah klinik. Tora nampak antusias dan malah ikut masuk ke klinik itu bareng Saga sementara Nao-san dan aku nunggu di luar. Dan tak lama kemudian terdengar tawa Tora dan Saga dari luar. “Sial, mereka bersenang-senang  tanpa aku” kata Nao-san. Kemudian Nao-san (dan aku) melanjutkan perjalanan. Saat ditikungan Nao-san tiba-tiba nampak terkejut kemudian tertawa terbahak-bahak. Pas diliat ternyata di sana ada pintu yang di dalam nya berdiri seorang zombie (yang sebenarnya staff yang seharusnya menakut-nakuti anak-anak arisu tapi malah membuat Nao-san ketawa). Zombie nya pake jas cokelat muda, trus dibagian dada-perutnya dipakein perban, zombie nya kalo ngomong pelaaaaaaan banget. Nggak lama kemudian datang Tora dan Saga yang kemudian tertawa terbahak-bahak (juga) (sepertinya staff gagal menakut-nakuti anak arisu). “Ini yang tadi ada di klinik” kata Saga. Sepertinya mereka malah memergoki zombie jadi-jadian ini di klinik tadi sedang bersiap-siap, makanya mereka tertawa.

Endingnya kami berempat, berlima dengan si zombie malah berdiri membikin lingkaran. “Jadi?” tanya Nao-san. Zombie (staff) yang ngomongnya pelan (karena masih merasa berperan jadi zombie) memegangi dada nya yang berperban. “Aaaku.. tiiidak baawa koreeek” kata zombie itu. Ternyata si zombie ulang tahun?!!!! Kemudian staff lainnya membawakan sebuah lilin yang sudah menyala. “Oh, ini lilin yang harganya 15 ribu” kata Tora saat melihat lilin yang di kasih staff. (random banget muncul nya harga 15 ribu xD) “Emang kenapa kalo lilin harganya 15 ribu?” tanya ku. “Api nya susah mati meskipun kau tiup kuat-kuat” kata Saga. Kemudian Zombie itu mencoba meniup, tapi asli, api nya nggak mati-mati. Lalu aku, Nao-san, Tora dan Saga mencoba meniup lilin itu bersama-sama, ternyata apinya mengecil dan kami sudah berteriak ‘hore’ karena mengira lilin itu mati, tapi ternyata api nya nyala lagi. “Kalo ada Shou-san pasti bisa” kata Nao-san. “Iya, dia vokalis (pernapasan nya bagus)” kata Saga. Tak lama datang Shou-san (dengan outfit heart of gold) mencoba meniup lilin harga 15 ribu itu, tapi ternyata juga hasil nya nihil dan lilin itu nggak mati-mati juga apinya. “Kita celupin ke air aja” kata ku. “Jangan-jangan malah kecelup di bensin” kata Saga. Aku membayangkan ledakkan yang besar. “Cipratin aja dari air mineral kemasan, bisa dipastikan itu bukan bensin” kata ku.



Dan kemudian aku terbangun, gara-gara nyokap manggil dan bilang kalau kucing ku melahirkan. Sampai di sini petualangan jalan malam bersama Nao-san, Tora dan Saga. Aku nggak tau gimana ending dari lilin harga 15 ribu itu, apa bisa dimatikan apinya atau enggak. Hahahahaha… 


mimpi yang aneh :D


sekihan sekian ^  ^)/

Jumat, 29 Oktober 2010

[FANFIC] Midnight Samurai

Judul : Midnight Samurai

Penulis : Meg Kecil yang sekarang pengen dipanggil "DONAT PUTIH" :D

Dibintangi oleh : Tora Alice Nine as TORA ; Shou Alice Nine as Shou



WARNING!!

terdapat adegan berdarah-darah...



tulisan pemula,,

jika ada kesamaan nama, tokoh maupun kejadian adalah suatu hal yang tidak di sengaja

kritik dan saran penting untuk kemajuan penulis...



“Crassssh!”



Shou menyeka cipratan darah di wajah mulusnya sambil tersenyum sinis. Matanya menatap tajam ke arah tubuh seorang pria yang baru saja ia tebas dengan samurainya.



“Shou… Shou…”



Shou membalikkan badannya. Tora yang sedari tadi menontonnya dari belakang hanya bisa menggeleng. Pria yang mengenakan yukata hitam yang juga memegang pedang itu berdiri menghampiri Shou.



“Apa?” tanya Shou sambil menghentakkan samurai nya sampai bersih dari darah-darah. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam sarung pedang miliknya. “Kenapa kau sampai terkagum-kagum seperti itu?”



“Hmpft” tawa Tora. “Iya aku kagum. Aku tidak menyangka sekarang kau sudah sehebat ini” kata Tora.



“Bukankah kekejaman ini semua telah ku pelajari dari mu?” tanya Shou.



“Tapi kurasa kau sudah jauh melampaui ku. Ku pikir kau sudah siap bertemu dengan orang-orang yang telah membunuh keluarga mu” kata Tora. Seketika pandangan mata Shou berubah. Tangannya ia kepalkan erat-erat. Aura dendam yang sangat kuat terpancar dari dirinya.



Ingatan Shou kembali pada kejadian malam itu. Di saat ia menemui seluruh keluarga nya terbantai habis oleh kaki tangan saudagar kaya hanya karena keluarga nya belum mampu membayar hutang-hutang pada keluarga saudagar kaya itu. Shou ingat bagaimana tawa saudagar botak itu menggema di sela isak tangisnya di hadapan mayat keluarganya yang bergelimangan darah.



“Aku akan membunuh saudagar kaya itu, serta keluarganya sebagaimana ia membunuh keluarga ku” kata Shou dengan penuh dendam.



***



Tengah malam, cahaya dari lilin kecil memantulkan bayangan tubuh Tora yang masih terjaga. Ada perasaan tak nyaman yang membuatnya tak bisa tidur. Ia kemudian memutuskan untuk beranjak dari tempatnya duduk dan keluar dari rumah.

Saat menutup pintu geser, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Tidak hanya satu atau dua orang, tetapi terdengar lebih dari itu. Tora menilik dari pundaknya dan langsung berbalik, ternyata memang segerombolan orang sedang menghadangnya. Tora langsung pasang kuda-kuda, tetapi salah seorang dari gerombolan itu, seorang pria kurus, mengangkat tangannya sambil menggeleng-geleng dan berjalan mendekati Tora. Tora tak dapat mundur, dibelakangnya tepat pintu masuk.



“Kami tidak bermaksud melawan mu… Tuan Muda Tora” kata pria bersuara cempreng itu. Tersentak Tora saat ia dipanggil dengan sebutan seperti itu.



“Siapa?” tanya Tora dengan suaranya yang rendah. Tangannya masih memegang pedang yang diletakkan dipinggangnya.



“Yare.. yare… Sudah lupa rupanya” kata pria itu sambil menggelengkan kepala. Tora hanya bisa mengerutkan dahi.



Tiba-tiba pintu geser terbuka dengan kasar dan dengan cepat Shou sudah berada di hadapan pria bersuara cempreng itu dengan ujung samurai yang berada tepat di pangkal lehernya.



“Shou!!” teriak Tora terkejut. Gerombolan itu hampir saja menyerang Shou yang berani menodongkan samurai kepada ketua kelompok mereka. Dia menyuruh gerombolan itu untuk tidak menyerang Shou dengan mengangkat sebelah tangannya.



“Aku tidak akan pernah lupa suara mu, brengsek!!!”



“Haaa… pemuda malam itu” kata pria yang ternyata adalah salah satu dari kaki tangan saudagar yang telah membantai keluarga Shou beberapa tahun yang lalu.



Shou menatap ke seluruh gerombolan itu sambil menyipitkan mata. “Ku pikir akan sulit mencari kalian, tetapi ternyata kalian sendiri yang menghantarkan nyawa kalian kepada ku??!!!” Shou menarik pedangnya dan hampir menebaskannya ke pria kurus di hadapannya itu.



“Tunggu!!!” suara itulah yang membuatnya berhenti melakukan penyerangan. Matanya terbelalak saat melihat mata pedang tepat meluncur di samping pipi nya.



“To…” Shou tak dapat berkata-kata, kepalanya pun tak dapat bergerak, sekali saja ia bergerak, mata pedang Tora akan melukai wajahnya. Ia hanya mampu melirik, namun matanya tak mampu melihat Tora di belakang.

“Hah… sudah saatnya untuk menjelaskan semuanya, Tuan Muda Tora” kata pria itu.



“Tu… Tuan Muda?” tanya Shou.



“Maaf Shou. Tapi sepertinya ingatan ku telah kembali dan musuhmu yang sebenarnya adalah….”



Belum sempat berkata-kata, gerakan cepat Shou membuat ujung pedangnya kini beralih ke pangkal leher Tora.



“Jelaskan padaku Tora atau aku akan membunuhmu” kata Shou lirih.



“Tidak ada yang perlu dijelaskan, kau bisa membunuh ku” kata Tora. Wajah mereka kini saling berhadapan.



“Tidak akan kami biarkan!” kata pria bersuara cempreng itu lalu mengajak gerombolannya untuk menyerang Shou. Mengetahui hal itu Shou segera memindahkan perhatiannya ke gerombolan preman-preman itu. Anehnya, Tora yang kemungkinan berada di pihak berlawanan dengan Shou, malah membantunya untuk melawan kaki tangan saudagar pembunuh keluarga Shou itu. Dan pertarungan berdarah pun terjadi pada tengah malam itu di bawah sinar bulan purnama.



***



Tebasan terakhir dari Shou membuat pria cempreng itu kehilangan keseimbangan dan jatuh. Shou hampir menghunuskan pedangnya, tapi pria cempreng itu mengangkat tangannya yang gemetaran dan berlumuran darah, membuatnya menarik kembali pedangnya.



“Tu..an Mu….da” kata pria cempreng itu terputus-putus, nafas nya tersengal. Tora yang kepayahan menyeka cipratan darah di pipinya, lalu mendekati pria itu.



“Apa, Gouda?” tanya Tora akhirnya mengingat nama pria tua itu.



“Ayahanda…. Tuan Mu…da… Ttt..telah.. wa…fatttttt” kata Gouda. Shou terkejut. Begitu pula dengan Tora. “Hamba… sanggg…attt senanggg… Tttttuuan mmmuda kembali menggggingat saaaaya”



Setelah itu Gouda menghembuskan nafas terakhirnya. Tora berdiri lalu menghadap ke arah Shou.



“Ayah ku, orang yang selama ini sangat ingin kau bunuh, telah mati. Sekarang, kau harus membunuhku juga. Bukankah itu janji mu? Untuk membunuh seluruh keluarga ku? Kini tinggal aku seorang” tanya Tora. Ia lalu melemparkan pedangnya. Hal itu membuat peluang untuk membunuh Tora bagi Shou sangat besar karena Tora tidak akan dapat melawan tanpa pedang di tangannya.



“Grrrraaaaaa!!!” Shou menyeret pedangnya lalu menebas Tora. Nafas Shou terengah-engah. Di balik tubuhnya, Tora jatuh terlentang.



***



“Grrrraaaaaa!!!” Shou menyeret pedangnya lalu menebas Tora. Nafas Shou terengah-engah. Di balik tubuhnya, Tora jatuh terlentang.“Aku tidak akan membunuh mu” gerutu Shou.



Tora menatap telapak tangannya, sedikit rambutnya tertebas oleh pedang Shou. Dengan gerakan yang secepat itu, Shou dapat mengendalikan serangnnya sehingga tidak melukai Tora sedikitpun. Tora hanya bisa tersenyum, senyum yang lelah sambil menatap bulan purnama malam itu.



“Karena ayah mu juga tidak membunuh ku” kata Shou sambil duduk di samping Tora.



“Maaf kan aku, Shou” kata Tora lirih sambil menatap sahabat yang merawatnya selama ia dalam keadaan kehilangan ingatannya itu. Shou tersenyum. Ia lalu membantu Tora untuk berdiri.



***



Pertarungan malam itu selesai begitu saja. Shou telah berhasil melampiaskan dendamnya pada kaki tangan saudagar kaya yang telah membunuh seluruh keluarganya itu. Dan Tora berhasil menemukan kembali ingatannya yang telah hilang dan mengetahui ternyata dirinya adalah anak dari saudagar kaya yang selama ini ditaruh dendam oleh Shou. Meskipun begitu, Shou tidak membunuh Tora karena Shou tidak akan membunuh begitu saja orang yang selama ini menjadi sahabat sekaligus guru yang mengajarinya bertarung.



“Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Shou.



“Entahlah” jawab Tora.





FIN

Jumat, 19 Maret 2010

[Fanfic(?)] Ketika Meg Nonton Lumba-Lumba...

Title : Ketika Meg Nonton Lumba-lumba...

Author : Meg Kecil

Chapter : Oneshot, super singkat

Genre : Ga Jelas! Beneran XD

Starring : Meg and her two fiction big brothas (Tora >< Saga Alice Nine)











Sial!!!!!!!

Apa kalian bisa menebak siapa yang moto'in mereka berdua sama lumba-lumba???!!!!







Dedek nya itu yang moto'in!! Dedek nya!! *nunjuk2 diri sendiri XDDDDD*






Dasar masa kecil kurang bahagia Abang Akang ku dua itu!! Huh!!

Padahal pengen juga foto bareng lumba-lumba!!!!

Kirain ngajakin nonton lumba-lumba biar dedek nya seneng...

Tau nya cuma buat kesenangan sendiri *eh berdua deh...*

"dek.. dek... ayo kita foto!!"

Kirain tadi mau difotoin!!!

Eeeeehhh!!! Tau nya cuma buat moto'in mereka doang!!

trus pulang!!

curaaanggg!! XDD

*gigit2 baju*
















FIN


*hahaha maap ya minna... saia jadi error gini ^^v
langsung muncul ide setelah liad piku itu, ahahay*

Kamis, 18 Maret 2010

[Fanfic(?)] Ketika Meg Mengerjakan Tugas eSPeHa

Title : Ketika Meg Mengerjakan Tugas eSPeHa

Author : Meg Kecil yang sekarang lebih pengen dipanggil Meg Corona

Chapter : Oneshot

Genre : lucu ga lucu ini cerita komedi

Starring : Meg >< BigBrothas (Umi Rui Vistlip & Tora Saga Arisu) Special Appearance : Another Alice Nine members




PERINGATAN!!
FANFIC INI HAMPIR KESELURUHANNYA BERBAHASA BANJAR…






Malam itu, Meg baru menyadari bahwa dirinya belum mengerjakan tugas eSPeHa. Lalu Meg bergegas duduk di depan kompi mencari bahan di internet untuk mengerjakan tugas nya. Tiba-tiba Rui yang lagi asyik rebahan sambil nonton sinetron, bangun dan menegur Meg…

Rui : Beapa, dek?

Meg : Gawi tugas A’ ae

Rui : *diam*

Meg : *noleh* Gyaaa!! Ka Umi!! Ka Rui muha nya pucat!!!

Lalu begedabukan Umi turun dari lantai dua dimana kamar nya berada setelah mendengar teriakkan Meg.

Umi : Rui!! Kenapa ikam!! *goncang2 badan Rui*

Rui : *matanya terbalik*

Umi : Melihat apa Gerang inya??

Meg : Kada tahu jua lun, lun menggawi tugas eSPeHa *nunjuk ke kompi yang memperlihatkan gambar rangka tengkorak yang tak lain adalah tugas nya Meg malam itu, mencari nama-nama ilmiah alat gerak/rangka* pas sidin mendatangi ulun, lalu sidin jadi kaya itu

Umi : Uaarrrgghh!!! Ngeri nya!! Tutup dulu windows nya!! *nutup mata sambil nunjuk2 kompi*

Meg : *nganga selebar-lebar nya* jangan padah bagian pian takutan lawan gambar skeleton…

Umi : *nyeret Rui* ae ja dah jangan disambat lagi…

Meg : *manyun* awak sorang ya to takutan? Hih! Muha ja pina sangar! Huh! Padahal handak minta gani’i menggawiakan tadi *ngeloyor ke kamar, ngunci kamar*

Umi : Aey! Meraju kah?! *nyusul Meg*

Rui : *setelah sadar, ikut2an Umi ke depan kamar Meg* sini nah, menggani’i nya, ku tadi tekajut banar ae… *gedor2*

Meg : Kisah wani!! Kada Usah gen! Gawi sorang ja A’ae!! *pencet2 nomer telpon Bang Tora*

Saga : halo! Apa dek?

Meg : Ka Saga kah nih? kasi bulik! Gani’i gawi tugas! *sayup2 suara Tora minta HP nya dari tangan Saga*

Tora : Apa?

Meg : Kasi bulik! Lun kada ngerti nah tugas eSPeHa…

Tora : Shou hanyar membawai bemakanan nah di wadah Nao, kalasan, kena ku tukarkan…
Meg : Aey ja, hancapi, ingati, ulun jangan besambal!!

Tora : otreh!!

Dan handphone pun dimatikan. Meg yang kebingungan lalu mendapatkan ide cemerlang untuk dapat menyelesaikan tugasnya malam ini juga, menyontek punyanya Mpon Hiroto!!! Meg lalu mengambil jaket merah yang digantung di belakang pintu kamarnya, lalu ngeloyor keluar menuju kost-kostan nya Mpon.

Umi : han.. han.. handak ke mana?

Meg : Nggawi tugas!! Wadah Mpon! *nenteng-nenteng leptop*

Rui : Maaf de’ lah, skeleton nya ngeri banar pang

Meg : tao ae aqo! Pian tu ha! *keluar rumah*

Umi : *bisik2* nyambati kita tuha kah nya tadi??

Rui : Ya ae lo, mun ku kada salah dangar…

Sementara itu….

Meg : Mpon!~ Mpon!~ *gedor2 pintu*

Hiroto : Aey! Wani nya malam-malam ke kosan lakian!

Meg : haha, Meg gitu, patuh ja acil penjaga nya lawan aku…

Hiroto : Kayapa? Tuntung jua kah eSPeHa kam?

Meg : GIGI NYAWA tuntung!! Hanyar dapat gambar nya ja nah, ku bingung mbah tu diapai lagi? *benerin posisi leptop di tangan*

Hiroto : *diam sambil nutupin mulut*

Meg : *noleh liatin muka nya Mpon yang terlihat Syok dengan mulut yang ditutupi oleh kedua tangannya* Gya!!!!~~~ Maap!!!!!!!~~~ *baru nyadar tadi nyinggung2 soal GIGI*

Hiroto : Kada bekawaaaann kitaaaa!!! *banting pintu*

Meg : Gya!!~~ Mponnnn!! Maaf!!! Kada sengaja unda!! Mpon!! Tolongi aku!! Hue!!~~ Hiks!!~~ eSPeHa ku Mpooonn!!~~ Gigi rapi ku!! Sahabat ku!! Mpooonnn!!~~~


Dan saat itu adalah puncak kesetressannya Meg. Terpaksa Meg pulang tanpa mendapatkan hasil contekan sedikit pun dari Hiroto dan terpaksa Meg harus mengerjakan tugas eSPeHa nya sendiri. Beruntung keesokan harinya teman-teman sekelompoknya datang membantu dan akhirnya segala tugas pun terselesaikan.








FIN




Are You Ready?? Khikhikhikhi...

Jumat, 05 Februari 2010

[fanfic] Tadaima

title : Tadaima (sudut pandang berbeda dari fanfic sebelumnya 'Okaeri')

starring : meg kecil and her imagination olther brothers
(Tora Alice Nine >< Saga Alice Nine >< Umi Vistlip >< Rui Vistlip)
featuring other members of alice nine

chapter : oneshot

genre : drama

author : meg kecil






di suatu tempat yang tidak dapat dibeberkan dengan sembarangan…

“Otsukaresama deshita!” Saga menundukkan badannya, begitu pula dengan member alice nine yang lain sesaat setelah mereka menyelesaikan making PV hari ini. Saga melirik ke arah Tora yang sedang memegangi leher nya. Ia kemudian mendekati kakak nya yang terlihat begitu kelelahan itu.

“Daijoubu desu ka?” tanya Saga khawatir.

“Oh! daijoubu desu” kata Tora yang terkejut tiba-tiba Saga sudah ada di sampingnya. Tora melemparkan senyum dan tak lagi memegangi leher nya. Mendengar Tora berkata seperti itu, Saga hanya bisa mendengus. Tora selalu berkata seperti itu, membuat kita tak dapat menebak apa yang ia rasakan sekarang. Tora kemudian menepuk pundak adik nya itu, membuat Saga terpaksa tersenyum menyembunyikan ke khawatirannya.




Di dalam mobil saat perjalanan pulang. Saga yang kelelahan sudah terlelap, sementara Tora masih dalam keadaan terjaga. Ia menatap layar handphone nya. Jam sudah menunjukkan pukul 1:55 dini hari dan ternyata terdapat 14 pesan masuk dan 27 missed calls.

“Meg…” Gerutu Tora. Rupa-rupanya sedari tadi adik bungsu nya itu menelpon dan mengirimkan pesan ke handphone nya, tapi karena dia sedang bekerja, ia tak menyadarinya. Tora menekan pangkal hidungnya. Seketika kekhawatirannya terhadap Meg muncul lagi. Memang ia dan Saga sudah lama tidak pulang ke rumah dan meninggalkan adik perempuan satu-satu nya itu di rumah sendirian. Di tambah lagi Umi dan Rui, kedua adik laki-laki nya, juga jarang di rumah karena juga sibuk dengan pekerjaan mereka. Sesaat Tora merasa ia tak berguna sebagai seorang kakak sulung. Meg pasti kesepian sekarang, batinnya.



“Saga…” Tora mengguncang pundak Saga yang terlelap. Saga kemudian membuka matanya.“Sudah sampai” Kata Tora sambil mengambil barang-barang nya dan juga barang-barang Saga yang kemudian ia serahkan pada pemiliknya. Saga mengambil barang-barang nya dari tangan Tora.

“Otsukaresama” Kata Tora pada supir sekeluarnya ia dari mobil. Saga menyusul kakak nya dari belakang. Mereka kemudian memasuki gerbang sebuah rumah yang tampak besar dari luar.

“Oh! Kalian!” Kata Saga terkejut saat melihat Rui dan Umi ada di depan pintu rumah.

“Uo?! Kebetulan” Kata Umi. Secara kebetulan malam itu Rui dan Umi juga sudah selesai dengan pekerjaan mereka dan baru saja kembali ke rumah. Keempat bersaudara itu kemudian masuk ke dalam rumah.

“Ah~ Tsukareta…” Kata Rui sambil merenggangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Ssssttt!” Kata Umi tiba-tiba. Umi kemudian menunjuk ke sebuah sofa di dekatnya, yang berwarna kecoklatan karena lampu yang remang-remang di ruang keluarga. Tora, Saga dan Rui lalu berjalan mendekati Umi dan menemukan Meg yang tertidur di atas sofa. Tora kemudian duduk di samping Meg yang tertidur. Wajah Meg basah karena air mata. Entah apa yang dimimpikan Meg hingga ia menangis dalam tidur nya.

“Angkat saja ke kamarnya” bisik Saga.

“Jangan, ambilkan saja dia selimut! Jangan sampai ia terbangun” bisik Tora. Mendengar hal itu, Rui bergegas naik ke lantai atas dan membawakan selimut dari dalam kamarnya. Rui kemudian menyerahkan selimut itu pada Tora, Tora kemudian menyelimuti Meg dengan selimut itu secara perlahan, ia lalu menyeka dengan lembut air mata yang membasahi pipi Meg, pelan, agar Meg tidak terbangun.

“Sudah berapa lama kita tidak kembali ke rumah?” bisik Umi dengan nada menyesal. Tora, Saga dan Rui menatap Umi. Mereka hanya bisa diam, menyesali bahwa diri mereka tak pernah lagi menghabiskan waktu bersama adik bungsu mereka.




Keesokan harinya…

“Ohayou” Kata Umi yang baru saja bangun, turun dari lantai atas, dari kamarnya. ia kemudian menuju sofa yang ternyata berwarna merah itu, tempat di mana saudara-saudaranya berkumpul dan tempat di mana Meg, adik perempuannya, tidur semalaman. Umi menatap wajah sembab karena menangis semalam yang masih membekas di pipi Meg. Rui yang duduk di samping Meg menatap ketiga saudara laki-laki nya bergantian, ada aba-aba dari Tora untuk membangunkannya. tapi sebelum Rui membangunkannya, Meg malah terbangun terlebih dahulu.

“Ah? Aku baru saja ingin membangunkan mu” kata Rui

Meg terlihat mengucek-ucek matanya. Meg menatap ke sekelilingnya, ke Tora, Umi dan Saga yang berdiri mengelilinginya. Dan kemudian ia mulai menangis.

“Tadaima….” Kata Tora, Umi, Saga dan Rui serempak.

Setidaknya untuk hari ini, mereka ada di rumah, untuk Meg.










FIN

Rabu, 03 Februari 2010

[fanfic] Okaeri

title : okaeri

starring : meg kecil and her imagination older brothers
(Tora Alice Nine >< Saga Alice Nine >< Umi Vistlip >< Rui vistlip)

chapter : oneshot

genre : drama

author : meg kecil






Ku buka mata ku perlahan. Jam setengah dua dini hari. Sudah ku duga. Entah kenapa akhir-akhir ini selalu terbangun di jam yang sama. Ku tarik nafas ku dalam-dalam. Malam ini pun sepi, seperti hari-hari yang lalu. Aku beranjak dari tempat tidur ku dan berjalan keluar kamar.


Ku tatap ruang keluarga. Gelap, hanya ada penerangan dari sebuah bola lampu di sudut ruangan, berwarna jingga yang watt nya tidak terlalu besar sehingga ruangan menjadi remang-remang. Sofa merah itu pun jadi terlihat berwarna kecoklatan. Sebuah meja panjang berdiri tepat di hadapannya, dan sebaris dengan keduanya ada televisi flat yang cukup besar.


Kemudian aku duduk di sofa merah itu tepat di bagian tengahnya, tempat di mana biasanya aku duduk, diantara keempat kakak laki-laki ku yang juga diapit oleh Papih dan Mamih. Teringat masa-masa bahagia dulu, saat Papih dan Mamih masih ada di sini. Papih dan Mamih telah pergi untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Teringat juga saat-saat bersama keempat kakak ku, saat mereka masih memiliki waktu luang bersama ku, saat mereka masih memiliki waktu luang untuk menghiburku saat aku terkenang Papih dan Mamih. Candaan kak Tora dan kak Saga, tawa khas kak Umi yang malu-malu, serta suara ceria kak Rui. Tapi kini mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sudah lama mereka tak pulang ke rumah dan meninggalkan ku sendirian di rumah ini. Ku angkat kedua kaki ku ke atas sofa, ku peluk keduanya erat dan ku tenggelamkan wajah ku diantaranya. Aku menangis.
“Kak… Aku kesepian…”


Ku buka mata ku perlahan. Silau. Sudah pagi? Rupanya aku tertidur di sofa. Ku temui sebuah selimut tebal menyelimuti tubuh ku. Selimut?!!

“Ah? Aku baru saja ingin membangunkan mu?”

Aku bangun dan mengucek mataku, ku lihat Kak Rui yang duduk di samping kaki ku sambil tersenyum. Dan aku baru menyadari kalau di sekeliling ku ada Kak Tora, Kak Umi dan Kak Saga juga. Aku mulai menangis.

“Tadaima….” kata mereka berempat serempak.

“O…okaeri….” kata ku dengan terisak.

Setidaknya untuk hari ini, mereka ada ada di rumah.












FIN